Sabtu, 07 November 2009

Ali Holiday

Teks: Emal
Foto: Ali and friends


Bersimpuh Rukkeleng Mpoba:
“….Alangkah baiknya Tuanku menurunkan seorang keturunan, untuk menjelma di muka bumi. Agar dunia tak lagi kosong melompong, dan terang benderang paras dunia. Engkau bukanlah Dewata selama tak satu manusia pun di kolong langit, di permukaan pertiwi, menegaskan Sri Paduka sebagai Batara”. (Penggalan naskah La Galigo, mitologi Bugis).

Diyakini, lokasi tempat Batara Guru menginjakkan kaki pertama kali di bumi terletak di Luwu sekarang ini. Bagi masyarakat Luwu, ikon Batara Guru sebagai manusia pertama dipercaya merupakan sosok pemimpin utama di Tana Luwu. Posisi peran sentralnya itu kemudian mengalirkan nilai-nilai luhur, falsafah hidup, dan wawasan kearifan. Termasuk bagaimana masyarakat Luwu memelihara kelestaraian alamnya. Dan Soroako, adalah satu titik kecil di Tana Luwu yang juga memiliki keindahan alam di sekitarnya.
Tidak banyak orang mengenal Soroako. Mengenal Soroako, tidak banyak orang tahu di mana Soroako. Soroako memang tidak segemerlap Kuta, Jogja, atau Samosir. Soroako juga tidak sementereng Tana Toraja, Kutai Kartanegara, atau Banda Naira sekalipun. Tapi tidak bagi para pelaku industri tambang, fotografer, dan pencinta diving.
Soroako terletak di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Kota kecil yang baru saja naik pangkat dari sebuah desa ini terletak sekitar 600 kilometer di Utara kota Makassar. Kalau ingin mencari di peta, cari saja danau Matano. Secara geografis, Soroako memang terletak di bibir danau terbesar kedua di Sulsel tersebut. Ditambah keberadannya di lereng pegunungan Verbeek, menjadikan Soroako kota kecil yang indah dan berlimpah akan nikel.
Tidak bisa dipungkiri, sejak kedatangan PT INCO yang mengeksplorasi nikel di Pegunungan Verbeek, Soroako tidak hanya menjadi lebih dikenal. Soraoko juga menjadi lebih ramai, lebih hidup, dan tentu saja lebih sejahtera. Keindahannya menyulut para fotografrer untuk datang. Keramahannya mengundang banyak artis untuk singgah. Dan Soroako pun menjadi lebih di kenal.
Keberadaan industri tak membuat Soroako berubah secara culture maupun nature. Jika beruntung, pada saat tertentu kita dapat menyaksikan Meopudi, sebuah upacara menangkap ikan Opudi di danau Matano atau pesta panen Padungku. Keduanya adalah pesta adat yang masih bertahan hingga kini.

Secara alam, tentu saja Soroako memiliki danau Matano. Danau berusia sekitar empat juta tahun ini memiliki kedalaman 594 meter. Membuatnya menjadi danau terdalam di Asia Tenggara dan nomor delapan di dunia. Fakta lainnya, dengan ketinggian permukaan 385 mdpl, berarti dasar danau berada 200 meter di bawah permukaan laut. Bentukan alam yang langka bukan. Memiliki ikan-ikan endemis serta bebeberapa flora fauna yang menjadi ciri khas Sulawesi, membuat sejumlah pakar ekologi merekomendasikan Danau Matano menjadi salah satu world heritage dan biodiversity hotspot yang harus dijaga kelestariannya.


Meski tidak begitu jelas menunjukkan bagaimana keindahan Soroako, semoga foto-foto ini cukup menggugah untuk menjadikan Soroako destinasi selanjutnya. Kalo saya, PASTI! InsyaAllah.


Aktivitas liburan di danau Matano........










Jalan-jalan di lapangan golf......ehmm asyik juga







Menyempatkan diri ke Sulawesi Tenggara




Bersama teman-teman se-Soroako yang telah menyebar, kuliah di mana-mana. Begini nih kalo ngumpul lagi.

Bubur Manado ini sepertinya enak juga.....!??




Ali: Seorang mahasiswa Teknik Sipil ITS yang gemar traveling. Pemuda single (beneran ya jomblo?) ini tinggal di Soroako sejak kecil. Kegemaran lain dari pengikut faham narsisme ini adalah fotografi. Meski pemula dan tidak tahu apa-apa tentang dunia digital, hasil jepretannya tidak kalah dengan fotografer profesional. Kedua hobinya tersebut telah membuatnya banyak menapakkan kaki di banyak tempat di Jawa Timur dan sekitarnya. Oh iya, nama lengkapnya Zadly Andi Pangnguriseng, tanpa kesalahan dan kelebihan penulisan huruf.

Senin, 02 November 2009

Jalan-jalan Bareng Etoser

Hutannya lebat. Sedikit gelap dan agak menakutkan. Tepat di pesisir Laut Kidul. Sama dengan hutan tropis lainnya, rasa lembab kental terasa. Sesekali desiran ombak yang menabrak karang terdengar. Namun lebih banyak suara-suara tak dikenal lainnya jauh dari pedalaman hutan. Pohon bergoyang dan gemerisik dedaunan kami anggap biasa. Kami coba untuk menganggapnya biasa. Kalau tidak monyet ekor panjang, mungkin monyet ekor pendek, atau jenis monyet lainnya. Tidak ada spekulasi lebih dari itu. Satu-satunya harapan kami hanyalah jalan seukuran mobil yang katanya dapat membawa kami ke tujuan. Jalan rusak super parah yang mau tidak mau dan suka tidak suka harus kami lalui. Tidak ada kata kembali. Karena menyerah berarti rugi.

Inilah perjalanan kami menuju Sukamade. Sebuah pantai yang dikenal degan penangkaran tukik, anak penyu. Perjalanan yang direncanakan namun salah perkiraan. Perjalanan melewati perkampungan, sawah, ladang, perkebunan, kali, dan tentu saja hutan lebat di mana tidak akan ada orang yang mendengarmu berteriak. Ya, kami melalui Taman Nasional Meru Betiri. Masih alami, tapi menurut salah satu teman kami, terlalu alami. “Ini bukan alami lagi, tapi kealamian!”


Bersama Mas Agus, Pria Bangkalan penjaga pos Meru Betiri di Rajegwesi. Sesaat sebelum menyusuri hutan sejauh 18 km

Dua hari waktu yang kami punya untuk menjelajah apa saja yang bisa disinggahi di Banyuwangi Selatan. Bermodalkan dua awak penghuni asli Banyuwangi Selatan, setidaknya akan ada 3 pantai dan satu air terjun yang menjadi destinasi kami. Namun jalan yang digariskan berkata lain. Sukamade, salah satu potret wisata Indonesia.

Bagaimana wisata Indonesia akan maju, sarana prasarananya saja tidak digugu. Terkadang inilah yang kami sayangkan di beberapa tempat. Jalan yang rusak dan prasarana yang tidak memadai. Namun sepertinya itulah yang menjadi ciri khas kita. Ada perjuangan menuju tujuan. Asal terbayar dengan keindahan dan kepuasan, sesulit apapun perjalanan akan kami lawan. Setidaknya begitulah kami memandang wisata negeri ini. Sebuah alasan yang kami terima, untuk kami sendiri.

Sebelum rimba, jalan sudah mulai parah. Penumpang harap turun...heheee


Laut Selatan dari rimba Meru Betiri. Hiburan kami dalam hutan


Mau tidak mau. Hanya satu jalan ke Sukamade, dan harus menyebrangi sunagi ini


Hampir 60 km dari Jajag, sebuah kota kecil di jalan lintas Jember-Banyuwangi. Dan hampir 4 jam kami habiskan waktu diperjalanan menuju Sukamade. Dengan jalan 30 persen rusak berat dan 50 persen rusak ringan. 40 persen hutan lebat, 40 persen perkebunan, serta sisanya sawah dan pemukiman. Hasilnya, CUKUP memuaskan dengan 3 kilometer pantai pasir putih beserta satu pemancing lokal. Sedikit menikmati keganasan pantai selatan dan berteduh di bawah batu karang. Berusaha membuat cukup memuaskan menjadi terbayar.


Proses penetasan telur penyu di penangkaran Sukamade




Sukamade.......

Sayangnya kami tidak bermalam. Tidak bisa melihat penyu bertelur. Tukik pun belum menetas untuk kami lepaskan. Dan rencana ke dua pantai lainnya gagal total. Karena hampir satu hari kami habiskan waktu di perjalanan,yang untungnya terbayar lunas saat kami singgah sejenak di Rajegwesi. Pantai yang juga tidak biasa 20 kilometer sebelum Sukamade. Tidak direncanakan namun mengesankan. Ya, dalam perjalanan siapa yang tahu kita akan mendapat apa.

Bersama Pak Slamet, salah satu penajga penangkaran


Sunset di Rajegwesi


Tidak ingin terulang lagi, hari kedua kami tidak lagi berspekulasi. Mengunjungi seadanya saja. Karena sore nanti kami butuh tenaga untuk kembali ke Surabaya. Awalnya hanya akan ke air terjun lokal yang namanya saja kami tidak tahu. Namun Emal paksa melihat-lihat terowongan kereta di daerah Kalibaru. Sampai terowongan, Emal paksa menyusurinya hingga ujung. Teringat hari pertama, ternyata untuk ke Sukamade juga harus dipaksa saat akan menyerah di Rajegwesi.

“Tanggung nih udah setengah jalan, masa iya sudah sampai sini balik lagi!” kata Emal sebagai senjata pertama.
“Kalau tidak mau, aku jalan sendiri! Kalian tunggu di sini atau kembali duluan!” senjata kedua jika yang pertama tidak mempan. Dan keduanya ampuh untuk para etoser yang lumayan gila jalan-jalan tapi sedikit kurang mendapat tantangan.



Terowongan kedua pada jalur Jember-Banyuwangi, 700 meter


Air terjun Entah Apa Namanya, di atasnya kami mandi setelahnya

Terimakasih kepada para etoser 05 yang telah mengajak Emal dalam perjalanan kalian. Tidak ubahnya perjalanan lainnya, selalu ada yang berkesan. Dan kali ini, akhirnya merasakan bagaimana buang air besar di toilet yang hanya menutupi setengah badan. Anda jongkok maka hanya kepala anda yang terlihat. Bagusnya, tidak akan ada yang pernah sudi melihat anda. Tidak disangka kami benar-benar di desa. Juga mandi di kali untuk pertama kali. Membuang segala kotoran yang ada di badan, yang mana kali tersebut mengalir terus sampai air terjun yang kami singgahi. hahaaaaaa

tengkiyu etoser

Selasa, 13 Oktober 2009

Wisuda dalam Ekspresi

Wisuda adalah hari istimewa bagi sebagian orang. Hari di mana sebagian orang tersebut mengekspresikannya dengan senyum syukur dan tawa bahagia. Ada optimisme di sana. Ada semangat baru di sana.

ya...setidaknya tidak perlu mengekspresikannya dengan berlebihan seperti ini

Meski demikian, ternyata sebagian kecil orang yang lain mengekspresikannya dalam bentuk tanda tanya. Apa sebenarnya yang mereka pikirkan?



Bisa jadi wisuda adalah hari terakhir menapaki kampus. Tidak ada alasan bukan untuk tidak memberikan yang terbaik. Ucapkan sumpah dengan lantang, lantunkan hymne dengan hikmat, dan ikuti prosesinya dengan khusu......
bukan toleh kanan kiri dan bergaya seperti ini




Inilah warna-warni wisuda sebenarnya. Mereka datang tidak dari satu daerah. Tapi mereka datang tidak satu tujuan yang sama. Satu harapan yang sama.



Dan mereka yang dibalik layar...........yang selalu memeliki ceritanya sendiri



Tidak semua akhir selalu indah. Tapi mungkin akan menjadi happy ending jika tetap berusaha untuk hunting......heheeeeee!
buatlah seindah mungkin dan terus ekspresikan diri......

.....karena akan selalu ada keindahan dalam setiap ekspresi.

Sabtu, 10 Oktober 2009

The Future Leader (Sebuah Memori)


Sebuah kumpulan foto Ut temukan dalam compact disk (CD) teman. Beberapa foto yang menghadirkan kembali memori-memori indah dulu. Ternyata rasanya berbeda saat harus mengenang suatu memori yang telah terjadi cukup lama. Saat kita merupakan bagian dari memori itu, akan berbeda dengan saat kita mengenangnya beberapa bulan kemudian. Lebih berbeda lagi setelah bertahun-tahun kemudian. Bisa jadi sikap kita yang berbeda dalam menanggapi memori tersebut yang telah membuat “rasa”nya juga menjadi berbeda.

Tidak percaya! Coba saja lihat foto-foto anda dengan siapa saja saat ini. Bandingkan dengan saat-saat anda mengenangnya beberapa tahun lalu atau beberapa waktu yang akan datang.

Ah sudahlah. Ut tidak ingin terlalu lama berfolosofi tentang itu. Biarkan foto saja yang berbicara.









Buat Mas Fahmi di Arab Saudi, Mas Lutfan di Jerman, dan Mas Dimas di Malaysia; teruslah berjuang dan raih ilmumu setinggi mungkin.

Buat Mas Slamet dan Mas Fuadi di Kalimantan; kami selalu menunggu traktirannya. Awas Item kena batu bara.

Mas Ardi, Mas Fajar, Mas Cholis, Mas Fatih dan Mas Nuril, Mas Khoir; taklukkan Jakarta, kerasnya Jakarta tak sekeras tekad kalian.

Syeh Ibnu di Mataram semoga segera mendapat bidadari di sana, di tengah kesendirianmu.

Mas Andik, terima kasih sudah membuka jalan bagi kami untuk menikah

Buat Mas Dhani, regenerasi ada di tanganmu

Dan selamat buat temen2 yang baru wisuda, ada Dayat, Regar, Deden.

Bagi yang belum lulus, Tomo, Kholid, Subhan, Rony; tetaplah bermimpi seperti Ut ini……..hihiiiiiiiii

Spesial buat mas Moko, maafkan atas segala salah adikmu ini

Yang gak kesebut maaf ya….soale Ut gak tau kejelasan kalian. Heheeee…mohon disori dan dimaklumi!

Sabtu, 03 Oktober 2009

Akhirnya (ada yang) Nikah Juga........

Pecah juga telurnya. Akhirnya ada juga teman kita di Regional IV angkatan III yang memulainya. Memulai itu sulit. Satu langkah pertama itu berat. Gol pertama pun terkadang tidak mudah. Tapi mungkin semua sepakat jika langkah pertama terlaksana maka langkah-langkah berikutnya terasa ringan. Inilah doa kita agar dimudahkan untuk segera menyusul Andik Erwansyah untuk menikah. Heheeeeee………..Amiin.

Rabu 011009, teman kita ini telah menyempurnakan setengah Din-nya. Dengan mempersunting seorang gadis lulusan UGM yang dulunya ternyata teman satu SMA. Kuliah memang tidak pacaran, tapi sepertinya dulu sudah janjian. Hihiiiiiii. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir....

Dan kami, lima orang utusan sekaligus wakil seangkatan di PPSDMS memulai perjalanan pertama untuk menyerahkan piala bergilir “Nikah Award” kepada Andik. Perjalanan pertama untuk pernikahan pertama. Perjalanan pertama untuk merentas perjalanan-perjalanan berikutnya. Amiin…lagi.
Ba’da Shubuh ketika matahari belum sempat mengintip dan udara masih begitu sejuknya, kami berlima sudah nangkring di Stasiun Gubeng. Akhirnya, Rapih Dhoho tujuan Blitar menjadi kendaraan kami menuju lokasi walimahan di Kres Kediri. Sayangnya, kami harus berangkat dengan gerutuan. Berangkat dengan penyesalan karena harus menaiki kereta, bukannya motor atau bahkan mobil agar lebih mobile. Berangkat dengan kekesalan atas “pengkhianatan” teman kami sendiri yang ternyata berangkat dengan duduk manis dalam mobil ber-AC bersama para “gadis”nya. Kami sih tidak masalah dan maklum-maklum saja, tapi sepertinya ada seseorang yang tidak bisa memaklumi itu. Heheeee…..sudahlah, toh kami menikmati perjalanan ini. Semoga Tomo dan Wildha sudah bermesraan kembali (ups…kelepasan sebut nama nih).

Pukul 09.30 kami sudah tiba di Setasiun Kras (bukan stasiun tapi Setasiun). Masih ada dua jam sebelum waktu undangan. Dan yang lebih mengesalkan lagi, kembali kami harus menunggu satu orang yang naik mobil itu. Tentu saja seperti biasanya, kalau sudah kumpul ya makan, makan-makan, dan makan lagi. Tidak lupa pula narsisannya.
Wes….gitu aja ya. Selanjutnya nikmati saja foto-fotonya yang sedanya! Selanjutnya kita tunggu bakal ke mana dalam perjalanan (menghadiri pernikahan) kedua nanti. Satu hal yang jelas dan harus pasti adalah ada setidaknya satu orang yang hadir dan mengantarkan piala itu. Di manapun itu……………….

Kamis, 20 Agustus 2009

Akhirnya ke Ijen Juga....

“Sejak saya di sini, gak pernah sekalipun ke kawah!”
Begitu kata Pak Radi dengan logat maduranya yang khas. Saat baru saja beristri, Pak Radi memutuskan merantau ke Sempol meninggalkan kampungnya di Sumenep. Kini Pak Radi telah memiliki empat orang anak dan hampir memiliki cucu. Seperti kebanyakan warga Sempol, Pak Radi dan istrinya juga bekerja pada perkebunan kopi. Sebagai pemetik biji kopi yang kemudian diolah, dikemas, dan kita kenal sebagai kopi Arabika. Di rumah Pak Radi inilah kami bermalam. Istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk menaklukkan Kawah Ijen keesokan harinya.

Berangkat pukul tujuh pagi dari Surabaya, kami baru sampai di sempol beberapa saat sebelum maghrib. Normalnya, perjalanan dapat ditempuh sekitar 6-7 jam dengan rute Surabaya-Probolinggo-Besuki-Bondowoso-Sukosari-Sempol. Apa mau dikata, keadaan berkata lain. Satu kali ban bocor, satu kali pecah ban, dua kali istirahat, dan lebih dari satu jam menunggu hujan reda membuat waktu kami banyak terbuang. Belum lagi parahnya kondisi jalan Bondowoso-Sempol yang membuat kami tertatih menuju tujuan. Tapi semua terbayar.

Sempol adalah salah satu kecamatan di Bondowoso meski luas dan lingkungannya lebih mirip sebuah desa. Penduduk Sempol di dominasi oleh Jawa dan Madura dengan perbandingan lebih besar pendatang dari Madura. Hampir semuanya bekerja pada perkebunan kopi Arabika. Inilah desa terdekat dari Kawah Ijen. Meski begitu, seperti Pak Radi, sebagian besar penduduk tidak pernah sekalipun ke Kawah Ijen. Inilah desa tempat film King dibuat. Meski demikian, tidak ada warga Sempol yang pernah melihat film King.Hanya ada dua penginapan di Sempol. Penduduk Sempol menyebutnya hotel meski sebenarnya lebih mirip homestay. Keduanya adalah Arabika dan Blawan. Keduanya milik perkebunan. Untuk kelas ekonomi harganya 125 ribu dan standar seharga 170-200 ribu per malam, itupun hanya boleh untuk dua orang. Terlalu mahal bagi kami yang empat orang. Sejarah pun tidak mengizinkan kami untuk pernah menikmati Arabika yang terkenal itu. Beruntung kami bertemu BuYit, seorang ibu yang menyuguhkan kami makan siang yang dimakan menjelang maghrib. Bu Yit ini adalah kakak dari istrinya pak Radi. Dari Bu Yit kami mengenal Pak Radi yang bersedia memberikan satu kamarnya plus segala isinya, dengan harga sukarela saja. Andai kami makan tidak di warung Bu Yit, mungkin sejarah mencatat kami tidur dalam masjid di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut tanpa selimut.
Pukul enam kami sudah meninggalkan rumah pak Radi. Setelah sejenak melihat kebun strawbery dan mencari jejak lokasi shooting King, kami pun langsung menuju Paltuding. Paltuding merupakan pos pertama sebelum mendaki kawah. Jaraknya 14 km dari Sempol. Jarak yang cukup memuaskan untuk menikmati keindahan pegunungan Ijen. Dari Paltuding, perjalanan pun hanya bisa diteruskan dengan berjalan kaki. Di Paltuding ini juga sebenarnya terdapat penginapan. Hanya saja lebih dingin dari Sempol dan karena jumlahnya terbatas harus memesan jauh hari sebelumnya.
“Piano….pianoo….”
Inilah kata-kata yang sering kami lantunkan sepanjang perjalanan sejauh 3,2 km dari paltuding menuju kawah. Piano adalah bahasa Italia yang berarti pelan-pelan. Sebenarnya menyebutnya cukup sekali, tapi karena kami biasa menyebut “pelan-pelan”, jadinya kami sebut saja “piano-piano”. Seorang Itali yang bersama kami berkata, “piano-piano…hemmm, slowly-slowly!” itu berarti pelan-pelan-pelan-pelan. Hehee…..tak apalah.

Teman kami sepanjang perjalanan memang banyak dari Italia. Ada beberapa rombongan yang ditemani oleh tour guide-nya masing-masing. Tour guide yang juga penerjemah inilah yang membantu kami berkomunikasi dengan turis Italia. No English….tidak Indonesia, Italiano…piano-piano! Pembicaraannya tentu saja tak pernah jauh dari Valentino Rossi, Silvio Berlusconi, Fransesco Totti, Del Piero,dan espulso, serta tentu saja……Mamma Mia!

Beberapa tour guide yang kami jumpai juga asyik berbagi cerita pengalaman mereka dan bagaimana mereka menjalani hidup. Cukup menginspirasi dan menambah motivasi kami. Bagaimana mereka berkomunikasi, bersikap pada turis, menguasai banyak bahasa, dan tentu saja keliling Indonesia tanpa biaya……..Mamma Mia!!

Jarak 3,2 km memang tidak seberapa dibanding Lawu. Medannya pun tak seberat Lawu. Tapi tetap saja ngos-ngosan….(maklum sejak pulang kurang olahraga). Sebenarnya jalurnya sih asyik-asyik aja. Jalan tanah dengan lebar yang lumayan dan kelandaian yang tidak terlalu curam. Kiri kanan hutan dengan pohon-pohon sebangsa akasia berdaun kecil (kalo gak salah). Adem aja rasanya selama perjalanan. Mantapnya lagi, terdapat penanda tiap seratus meter. Jadi kita tahu berapa jauh kita berjalan dan seberapa jauh lagi tujuan kita.


Dua ribu meter dari Paltuding, kami istirahat di pos penimbangan belerang. Lagi-lagi bercengkrama dengan Italiano. Ngalor ngidul yang penting ngakak lah. Dari pos ini, sisa perjalanan lebih banyak melewati jalan datar melingkari sisi bukit. Pemandangan pun menjadi lebih luas dan puas. Sampai akhirnya “Selamat, Anda Sampai di Kawah Ijen 2380 m dpl”
“Mamma Mia……” kata rekan Italia kami. Kami pun menimpali…
“Subhanallah………”
Kamera pun beraksi dan narsisme mulai menjangkiti

Sayang, oleh sebab asap tebal belerang…hanya dua orang dari kami yang turun ke kawah. Menapaki jalur sempit berbatu…..berpapasan dengan para pemikul…….melawan asap yang kian pekat. Harus ada yang turun.














Riau Origins: Siak Sri Indrapura

Ada ratusan kerajaan di Indonesia. Menyebar dari Bumi Aceh hingga pedalaman papua. Semuanya telah ada sejak bangsa belum merdeka dan semuanya memiliki peran dalam melawan kolonial. Sebagian dari mereka masih eksis dan terus mewarisi tradisi budayanya di tengah perkembangan zaman. Sebagian yang banyak dikenal tentu saja kesultanan Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon. Namun ternyata ada juga kerajaan yang tidak mampu meneruskan tahtanya dengan sebab tertentu. Kesultanan Siak Sri Indrapura salah satunya, satu yang saya tahu.
Kesultanan Siak Sri Indrapura atau lebih sering disebut Kesultanan Siak saja berada di propinsi Riau. Didirikan pada pertengahan abad ke-18 oleh seorang putra kerajaan Pagaruyung, Kesultanan Siak menjadi salah satu kerajaan yang disegani di kawayan melayu Sumatra hingga Malaysia.

Sudah banyak sungai dunia yang membentuk peradabannya. Sungai Nil yang mengingatkan kita pada Musa, Firaun, Piramida sampai Cleoptra. Eufrat dan Tigris dengan Mesopotapianya. Sungai Gangga dengan Mohenjodaronya. Serta Bengawan Solo dengan Phitecantrophus Erectus. Begitu pula kesultanan Siak yang lahir dari aliran Sungai Siak. Sungai yang kabarnya merupakan sungai terdalam se-Asia Tenggara.

Berada tepat di tepi sungai, kesultanan Siak leluasa untuk bepergian dan berkomunikasi dengan kerajaan-kerajaan lain. Dibanding jejak fisik, Kesultanan Siak lebih banyak meninggalkan sejarah politik dan sosialnya di kawasan melayu Riau. Meski begitu, peninggalan yang ada cukup menggambarkan kita betapa besar dan agungnya Siak dahulu. Dan semua peninggalannya dapat kita jumpai di kota Siak Sri Indrapura, ibukota kabupaten Siak, propinsi Riau.

Beberapa peninggalannya adalah Istana kerajaan berlantai dua yang di dalamnya terdapat segala sesuatu yang pernah dimiliki dan dipakai keluarga kerajaan, beberapa makam sultan-sultan terdahulu, masjid raya kerajaan, balai adat. Terakhir adalah kapal yang digunakan keluarga untuk bepergian, karena dahulu transportasi menuju Siak hanya melalui sungai.
Di dalam istana, kita akan tahu bahwa hubungan baik Kesultanan Siak tidak hanya terjalin di kawasan melayu saja, namun juga ke beberapa negara di Eropa. Ini bisa kita lihat dari barang-barang yang tidak akan dijumpai di daerah sekitarnya. Selain membeli banyak perabot rumah tangga dari Tiongkok dan Eropa, tidak sedikit yang merupakan pemberian atau kenang-kenangan dari teman, kenalan, atau handai taulan dari eropa. Satu yang menarik perhatian saya adalah Komet, sebuah gramophon besar dari Jerman. Kabarnya, saat ini piringan besar yang mampu mengalunkan melodi-melodi Mozart, Bethoven, dan musisi besar lainnya itu hanya tersisa dua. Satu di Jerman dan satu terpajang di salah satu sisi Istana Siak.


Beberapa peninggalannya pun dapat dijumpai di Ibukota propinsi Riau, Pekanbaru. Adanya Pekan juga tidak lepas dari peran Kesultanan Siak. Atas peran raja-raja Siak terdahululah lahir sebuah kota yang dahulu hanya sebauh kampung. Sebelum seperti sekarang ini, sebenarnya Pekanbaru hanya sebuah distrik kecil bagian dari Kesultanan Siak. Namun karena lokasinya yang strategis, pekanbaru tumbuh jauh lebih pesat dari kota Siak itu sendiri.

Sebagai ibukota kabupaten, saya tidak tahu apakah Siak layak di sebut kota. Pasalnya, luasnya hanya sekitar 2000 x 500 meter saja. Tidak ada rumah atau bangunan melebihi 2 lantai. Kalaupun ada hanya satu dua saja. Rumah penduduknya pun masih berdinding papan. Sebagian rumah malah masih mempertahankan rumah adat mereka, rumah panggung yang juga berlantaikan papan, termasuk kantor bupatinya. Kebanyakan penduduk adalah melayu Islam dan beberapa pendatang dari Tionghoa. Masyarakat Siak memang dikenal sederhana. satu-satunya yang terlihat megah adalah Istana peninggalan kerajaan berlantai dua. Siapa sangka dulu pernah ada pusat peradaban melayu Riau di sini. Siapa sangka kini Siak menjadi ibukota kabupaten terkaya nomor tiga di Indonesia.

Setelah membentuk kabupaten sendiri, Siak memang terus berbenah. Pembangunan terjadi di mana-mana. Kota Siak diremajakan, kantor-kantor pemerintahan dibangun, akses darat dipermudah. Salah satunya pembangunan yang cukup megah adalah Jembatan Sultanah Latifah yang diresmikan Presiden SBY beberapa waktu lalu. Satu-satunya jembatan yang menghubungkan Siak dengan dunia luar, karena sebelumnya hanya anda harus menggunakan kapal fery untuk sampai ke Siak atau speedboot dengan menyusuri sungai Siak jika menggunakan jalur air dari Pekanbaru.

Satu hal yang disayangkan dari kesultanan ini adalah tidak adanya penerus kerajaan yang terakhir diisi oleh Sultan Syarif Kasyim II. Karena tidak memiliki seorangpun putra putri, raja terakhir itupun menyerahkan seluruh kekayaannya kepada negara. Andai masih ada keturunan sang raja, mungkin kini Riau memiliki seseorang semacam Hamengkubuwono.



NB: maaf kalo gambarnya kurang memadai….hanya ada kamera seadanya.

Selasa, 23 Juni 2009

Pesona Malam Irian Barat

Saat semua orang mulai beristirahat untuk menyiapkan tenaga keesokan hari, Keputran justru sudah lebih dulu bangun dan bekerja hingga pagi. Bermacam warna sayuran menghiasi Keputran di bawah siraman cahaya neon. Beribu pedagang, ratusan los, berkilo-kilo dan berikat-ikatSiapa yang tidak kenal Keputran, pasar tradisional yang beroperasi malam hari. Saat semua aktivitas kota Surabaya mulai menurun, Keputran justru bangkit dengan beragam transaksi. pangan petani menjadikan bintang tak lagi dianggap ada. Siang atau malam tak ada bedanya. Inilah Keputran. Pasar tradisional yang sudah menjadi ikon Surabaya. Tujuan wisata para traveller dalam negeri maupun pelancong mancanegara. Juga tempat favorit bagi para fotografer mengabadikan ke-khas-an Keputran.

Namun ada satu tempat yang mungkin tidak begitu dikenal, karena ketenaran Keputran. Lokasi yang tersembunyikan oleh gemerlap Keputran. Tepat berada di sebelah timur pasar dan di seberang Kali Mas. Jalan Irian Barat atau orang juga mengenalnya dengan Irba. Bukan sayuran atau bahan pangan yang dijajakan di sini. Tidak setiap malam ada transaksi di sini. Kecuali penggemar binatang peliharaan, mungkin tidak ada yang mengenal Irba. Sebuah pasar binatang peliharaan. Sebuah pasar malam yang menjajakan hewan-hewan lucu, unik, dan langka. Untuk dipelihara tentunya.


Saya sendiri tidak menyangka ada tempat seperti Irba ini. Bermula dari ajakan teman yang ingin memelihara hewan, saya pun menjadi tahu bahwa di Surabaya ada pasar hewan. Selama ini saya hanya tahu pasar burung yang sudah terkenal seantreo Indonesia, tepatnya di Jalan Diponegoro. Bertambahlah satu pengetahuan saya tentang Surabaya. Bertambah pula cinta saya pada Surabaya.

Pasar Hewan Irian Barat hanya ada pada Rabu malam dan Sabtu malam atau malam Kamis dan Malam Minggu. Kebetulan saya ke Irba pada Rabu malam, jadi tidak begitu padat pengunjung yang menyesakkan Irba. Sejak pukul lima sore, sepanjang jalan ini—dari ujung ke ujung—sudah berubah menjadi pasar. Sisi-sisi jalan dipenuhi pedagang dan hewan-hewannya. Kandang-kandang disusun rapi, dan calon peliharaan pembeli pun sudah bergaya manis dalam kandang, siap beralih kepemilikan. Kita pun tidak perlu terburu-buru dalam memilih calon peliharaan kita, sebab pasar Irba ada sepanjang malam sampai pukul 02.00 dini hari.


Macam hewan yang ada di Pasar Irba memang tidak banyak. Namun yang sedikit itu saja sudah cukup menarik animo warga Surabaya. Sebagian besar hewan yang ada di Irba adalah ikan hias. Mulai dari ikan air tawar sampai ikan air asin. Mulai dari cupang, lou han, sampai kuda laut dan beragam bentuk serta warna ikan yang biasa kita lihat di terumbu-terumbu karang (di televisi). Bagi yang belum pernah punya, ada pula berbagai bentuk aquarium beserta segala macam aksesoris di dalamnya.



Hewan berikutnya yang banyak kita lihat di Irba adalah hamster, hamtaro, tikus kecil, atau sejenisnya. Saya sendiri tidak terlalu mengerti perbedaannya. Beragam warna dan bermacam jenis, bisa beli satu ataupun sepasang, biasanya akan dapat bonus kandang sederhana. Bagi yang ingin lebih memanjakan hamsternya, ada pula kandang yang cukup besar dan berisi berbagai wahana layaknya Ancol atau Jatim Park.

Berikutnya adalah kelinci, binatang lucu berbulu halus. Tidak ada orang yang tidak ingin mengelus bulunya. Pengunjung bisa memilih kelinci anakan atau yang sudah dewasa. Tidak hanya hamster, kelinci pun banyak jenisnya, tinggal pilih saja mana yang kita suka. Dan yang cukup menarik perhatian pengunjung adalah kucing. Mulai dari kucing biasa, kucing andora, sampai kucing persia ada di pasar Irba. Lagi-lagi kita dimanjakan oleh bermacam tekstur bulu dan beragam warna dari kucing-kucing ini.


Selain hewan-hewan di atas, Irba juga menyuguhkan hewan lucu kreasi penjualnya, seperti siput yang rumahnya penuh warna dan gambar menarik. Ada pula hwan langka seperti kura-kura bertempurung gerigi, besanya pun dua kali besar kura-kura biasa. Lebih ekstrem, ada pula beragam jenis ular dan kalajengking. Karena sudah jinak dan terlatih kita bisa memagangnya bahkan menggendongnya. Kata penjualnya sangat-sangat aman, kecuali belum diberi makan dua bulan.


Untuk anda yang berkeinginan membawa peliharaan anda ke manapun anda pergi, di Irba juga ada tupai dan musang yang akan setia berada di saku atau pundak anda ke manapun anda bawa. Bagi yang memiliki kedekatan dengan primata, juga tidak perlu kuatir. Monyet juga ada di pasar Irba. Memang tidak selengkap kebun binatang atau taman safari, namun untuk jenis hewan peliharaan kita tidak akan kecewa.

Irian Barat memang tidak setersohor tetangganya, Keputran. Tapi Irba memiliki pesonanya tersendiri. Bukan hanya tempat transaksi penjual dan pemelihara hewan, Irba sudah mampu untuk menjadi tempat yang layak dan enak dikunjungi. Sekedar cuci mata menikmati malam Surabaya bersama kelucuan dan keunikan hewan-hewan jajanan Irba.


Kebanyakan pengunjung memang keluarga dan pasangan muda-mudi. Anak-anak memang suka dengan hewan peliharaan nan lucu. Bawalah anak anda dan mereka akan merengek saat melihat hamster, “Pa mau Pa….mau pa…mau pa..mau!?”
Bagi yang belum memiliki anak, bawa saja pasangan anda. Saat melihat kucing maka dirinya akan berkata, “Iiihhhh….lutuuna, gemecin deh.”
Dan bagi anda yang belum memiliki pasangan hidup, saya sarankan untuk datang pada Sabtu malam atau malam Minggu. Biasanya akan ada banyak waria di Irba. Pilih saja yang anda suka!

Minggu, 14 Juni 2009

Menghadiri Pernikahan 3

Berhenti sejenak. Berhenti dari kerumitan UAS dan deadline tugas-tugas. Mengisi kembali tenaga dengan rihlah dadakan. Untuk ketiga kalinya, saya jalan-jalan yang diniatkan dalam rangka menghadiri pesta pernikahan. Dengan pasangan yang berbeda tentunya, tempat yang berbeda, dan teman-teman seperjalanan yang berbeda.

Sebenarnya ini perjalanan karena pernikahan yang keempat. Beberapa waktu lama yang lalu, pernah pula pelesiran ke Karanggoso setelah makan kenyang dan gratis di walimahan seorang kakak sekaligus guru di manarul. Sayang, foto-fotonya lenyap bersama penyimpannya.

Yoyok Eko Purwanto, pengantin pria yang tak lain kakak kami di Teknik Sipil. Mantan Kahima saat saya dalam masa pengkaderan. Dialah yang punya gawe ngundang kami-kami ini, delapan orang kru Al-Hadiid. Setengah 2006 dan separuhnya lagi 2005. Dalam Avanza menuju Nganjuk.



Pukul 10.30 kami tiba di tempat acara. Basa-basi, cipika-cipiki, foto-foto, dan makaaaaaannnn. Belum lagi waktu menunjukkan pukul 12.00, kami sudah kabur menuju tempat “sesungguhnya”. Rihlah plus tadabur alam di Air Terjun Sedudo, Nganjuk. Adem bangett……



Tempatnya sejuk sekali, bersih terawat, dan nyaman dinikmati. Bukit-bukitnya menjulang langgang. Kabut-kabut pun masih membalut. Terkesan seram tapi aram-aram. Dan airnya……tentu saja dingin.

Gak kebagian bareng-bareng.....sendirian aja deh


Dasar anak-anak sipil, paling susah kalo sudah lihat bangunan sipil. Ada saja yang dikomentari. Dalam perjalanan pulang dari Sedudo, mampir dulu kami di salah satu bangunan terjun. Objeknya bagus.


Hampir lupa acara (foto) intinya…….

Kamis, 04 Juni 2009

Sebuah Video untuk Kita

Susan Boyle. Mungkin agak asing di telinga kita. Tapi tidak bagi mereka yang cukup mengikuti perkembangan dunia tarik suara khususnya kontes pencarian bakat seluruh dunia.

Saya mendapatkan video ini dari seorang teman yang juga secara tidak sengaja menemukannya di salah satu komputer warnet. Saksikan saja......dan renungkan! mungkin ini sebuah peringatan untuk kita agar tidak pernah meremahkan orang, siapapun dan bagaimanapun dia.


video


Inilah lirik utuhnya
I Dreamed a Dream

There was a time when men were kind
When their voices were soft

And their words inviting
There was a time when love was blind
And the world was a song
And the song was exciting
There was a time
Then it all went wrong

I dreamed a dream in time gone by
When hope was high
And life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving

Then I was young and unafraid
And dreams were made and used and wasted
There was no ransom to be paid
No song unsung, no wine untasted

But the tigers come at night
With their voices soft as thunder
As they tear your hope apart
And they turn your dream to shame

He slept a summer by my side
He filled my days with endless wonder

He took my childhood in his stride
But he was gone when autumn came

And still I dream he'll come to me
That we will live the years together
But there are dreams that cannot be
And there are storms we cannot weather

I had a dream my life would be
So different from this hell I'm living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed.