Minggu, 22 Februari 2009

Abis Olahraga Trus Periksa Tensi

Sabtu adalah hari olahraga. Olahraga kali ini adalah lari ringan, badminton, dan main bola. Campuran, campur aduk, dan tercampur-campur. Semuanya berlangsung di Kampus C Unair. Rencananya sih sekalian renang, tapi liat ikan mas yang gede-gede jadi keder juga. Heheeee....bilang aja gak bisa renang. Sekitar 10 orang alumni PPSDMS ngeluruk berolahraga bareng di Unair C.

Paling diminati tentu saja menyepak si bundar di rumput hijau. Yang tidak hobi silakan main badminton, yang fobia silakan lari-lari saja. Yang mau berenang bareng angsa juga boleh. Yang pengen cari kenalan juga tidak dilarang. Tapi sial bagi yang main bola.

Skor baru 3-3 saat itu. Lagi seru-serunya dan lagi panas-panasnya. Eh...datang pak satpam yang melarang main di rumput. Batal deh......gak masalah sih. Main gak main yang penting kumpul.

Sebelum balik dan setelah merencanakan agenda olahraga pekan depan, anak-anak mencoba sebuah fasilitas baru tiap akhir pekan di Unair C. Bukan fasilitas sebenarnya, hanya sukarelawan dari FK Unair yang memberikan pelayanan periksa tensi. Grastis......sebenarnya juga tidak. Sukarela.....sesukanya asal rela. Gak ngasih juga gak papa

Usut punya usut, ternyata mereka adalah dua mahasiswa semester 2 yang mencoba memanfaatkan keahliannya untuk menambah uang jajan. Satu cowok berwajah Tionghoa dan satu cewek yang keliatanya asli Indonesia. Memang sih hanya tensi darah, tapi setidaknya para olahragawan kampus C menjadi tau normal atau tidak tekanan darahnya. Kalau normal ya gak papa. Kalo tidak.....mereka berikan tips sederhana.

So....jika temen-temen berkesempatan berolahraga akhir pekan pagi hari di Unair C, jangan lewatkan kesempatan ini. Sukarela koq..........saya saja hanya membalas jasa dengan memposting berita ini. Heheeeeee

Next. Pasca olahraga kemana? Tak lain dan tak bukan serta tak salah lagi. Makannnnnnnnnnnn.

Warung yang beruntung kali ini adalah warung sate langganan saat dulu berada di asrama. Letaknya di Kaliwaron, yang belum pernah gak bakal tau tempatnya soalnya gak ada papan reklame sama sekali. Mau sate ayam ada, sate daging bisa, sate kelapa juga boleh. Campur pun sangat dianjurkan. Plus es teh atau teh hanget, seporsinya hanya Rp 5000.

Puas banget deh pagi itu. Belum lagi sedikit info dan ilmu yang selalu mengalir kalo dah ngumpul.

Menghadiri Pernikahan.........

Undangan ini dihadiri tepat di akhir pekan sebelum minggu pertama perkuliahan di ITS di mulai. Bagi para alumni angkatan 3 Surabaya, entah sudah berapa pernikahan yang dihadiri. Bagi mereka yang baru saja akan dan sedang akan mempersiapkan fase pasca kampusnya, mengahadiri undangan pernikahan senior-senior sebelumnya adalah suatu kehormatan dan keharusan alih-alih kewajiban memenuhi undangan.

Hari H adalah Ahad dan berlangsung di Lumajang. Tapi Jumat sore kami sudah berangkat dengan Innova sewaan. Alih-alih ke Lumajang, kami berbelok menuju Jember. Yupss.........jalan-jalan dulu. Memanfaatkan Innova 2.0 V untuk tidak hanya digunakan menghadiri walimahan. Dasar anak muda....

Delapan anak muda, satu Innova, satu tujuan (walimahan), sehari di Jember, sehari di Lumajang, dan inilah perjalanan mereka.....................yang banyak mereka habiskan di perjalanan.

Awalnya, formasi para alumni yang akan berangkat tidaklah pasti baik jumlah maupun siapa yang akan berangkat. Sampai akhirnya, takdir memilih mereka-mereka ini. (sekalian promosi.....gak popo rek yo?!?!)


Nuril Imansyah. Baru saja lulus dari Teknik Perkapalan ITS. Sedang menunggu wisuda Maret nanti. Ketua rombongan yang mengkordinir semua. Mulai dari masalah dana awal, nyewa mobil, ngatur jadwal....pokok-ke semuanya deh. Maklumlah, dia kan ketua alumni angkatan 3. Terimakasih sudah sepantasnya diberikan pada Nuril atas rencananya, rumahnya untuk menginap semalam di Jember, plus 3 kali makan gratis masakan asli orangtua. Kalo ke Jember.......rumah Nuril gak boleh ketinggalan dikunjungi.



Ardi Arifianto. Anak Mojokerto yang juga sedang menunggu wisuda dari Akuntansi Unair. Sopir pertama yang membawa Innova rute Surabaya-Jember. Andai saja mobil yang disewa tidak semaknyus Innova. Mungkin dia tidak akan ikut. Pasalnya, Ardi tidak berencana ikut. Saat test drive.....mmhhhhh koq enaknya. Ikutlah pemuda yang fobia bermain bola ini. Kalo lagi gak nyetir, orang yang satu ini paling ngakak di dalam mobil. Di satu sisi menghibur....di lain sisi mengganggu yang lagi tidur.



Emal Zain MTB. Sedang berjuang di Teknik Sipil ITS untuk menggapai wisuda ITS yang ke 100. Sopir kedua yang melayani rute selama jalan-jalan menyisir pantai Jember sampai Lumajang plus mengantarkan ke tempat tujuan utama (walimahan dan makan-makan). Baginya, Innova adalah mobil termewah yang pernah di bawa. Sekarang sedang mengimpikan mengendarai Toyota Yarist. Mmhhhhh ada yang mau meminjami.......kalo gak ada biar beli sendiri.



M Ibnu Ramdhani. Lulusan Manajemen Unair Oktober kemarin. Merupakan sopir ketiga yang membawa rombongan pulang ke Surabaya. Putra daerah Cilacap yang paling narsis diantara yang lainnya. Betapa tidak, setiap sesi jepret-menjepret tak ketinggalan minta di foto sendiri dengan gaya yang sok cool. Saat sedang tidak nyetir, sangat setia menjadi co-driver.



Fatihul Fauadi. Biasanya dipanggil Fatik. Sebelum berangkat Jumat Sore, paginya baru saja menempuh sidang TA di Informatika ITS. ”Akhirnya aku lulus juga katanya.” Bisa dipastikan, foto-foto wisuda di dinding rumahnya di Lumajang akan bertambah menjadi sembilan setelah kedua orang tuanya dan keenam saudaranya telah mendahuluinya. Belum lagi dua adiknya yang masih menempuh kuliah. Luar biasa. Fatik inilah yang menjadi pemandu selama perjalanan. Maklum......Lumajang dan Jember sudah menjadi daerah kekuasaannya. Terimakasih untuk rumahnya di malam kedua. Lumajang is OK.



Lutfan Sinatra. Putra Bangkalan yang baru saja pulang dari Ohio. Juga sedang menunggu wisuda Maret nanti sebagai sarjana Teknik Fisika ITS. Bisa dibilang kami akan aman-aman saja bersama mantan komandan Menwa ini. Melindungi dan mengayomi........kakak banget deh. Tapi sepertinya, orang ini yang paling gampang tidur. Ati-ati.....kalo terganggu, ngamuknya kumat.



Ronny Hariyanto. Anak Gresik yang kuliah di Akuntansi Unair angkatan 2005. Sedang berjuang untuk lulus secepatnya agar bisa membangun kampung halaman. Ketua asrama alumni Ruhul Jadid yang kabarnya sedang diburu oleh tetangga sebelah. Mmmhhhh......sepertinya penggemarnya bertambah banyak saja. Biasanya sih nih orang paling rame, tapi di mobil orangnya jadi pelit bersuara. Tapi sekali njeplak.....ampun deh.



The last, Dwi Lastomo. Anak yang paling banyak omong dari Fisika MIPA ITS 2005. gak cuman banyak omong....tapi juga paling sering komentar. Baru diem kalo dah tidur di mobil rasanya itulah masa paling tenang di dunia. Heheeeee. Karena hobinya yang satu itu, anak Solo ini didaulat menjadi humas rombongan sat memberikan sambutan dan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Akhirnya di-shoot kamera juga.


Biar rada singkat...begini-ni aktivitas kami selama perjalan (selebihnya pake foto aja ya).

  • Jumat sore sampe malam ada di perjalanan Surabaya-Jember. Sempet ngisi perut pake bakso di ruas jalan Lumajang-Jember.
  • Jumat malem ada di rumah Nuril di Jember. Nyampe langsung makan malem. Dipuas-puasin sebelum akhirnya tidur bareng dalam satu ruangan. Asyik juga.......
  • Sabtu pagi...makan lagi. Pecelnya enak banget bro..... . Sebelum berangkat menggeber lagi Innovanya tak lupa foto-foto dulu bareng keluarga. Makasih pak...bu.
  • Next, jalan-jalan deh ke Pantai Watuulo ama Papuma. Keren abis. Basah-basahan...foto-foto....makan-makan. Pengen lagi.
  • Setelah menghabiskan bekal dari ortunya Nuril, berangkat lagi ke Puger. Lihat pelabuhan nelayan ma pantai yang gak keurus.
  • Sore dah di rumah Fatik tepat di jantung kota Lumajang. Tidur bentar dan bangun langsung disambut jajanan khas Lumajang yang semua bahan bakunya dari pisang.
  • Malam.....ya jelas jalan lagi donk. Menggeber Innova keliling kota. Dan ditutup nonton World Movie di Metro TV. Shadowless Sword.......mbaknya cantik.
  • Pagi-pagi dah main bola di alun-alun Lumajang, dilanjutin makan di depan LP. Hunting lagi...........hunting lagi. Hunting apaan ????????? ada deh.
  • Sebelum ke acara inti...jalan-jalan dulu ke pos pemantauan Semeru.
  • Dan acara intinya hanya mendapat porsi yang sangat kecil. Menghadiri undangan pernikahan. Itupun masih kalah ma makan-makannya. Dasar.....hanya datang, salaman, makan, dan pulang.


Jadi sebenarnya ini acara menghadiri undangan atau jalan-jalan??

kelaparan semua......ngganjel pake bakso


ba'da Shubuh di Jember


bersama keluarga Nuril.......dan Innova


di pantai Watuulo


1...............


.........2........


...........3


sok cool.....


tedampar di Papuma


anak pantai......banget


belagak model


PPSDMS


karang Papuma (kurang roni...lagi ganti pampers)


pagi di alun-alun Lumajang


Aliran Semeru, sayang awan menutup kegagahannya


satu foto dari acara inti, bersama Indra Prasetya Lutfi dan istri


ucapan selamat dan mohon doa agar segera menyusul


Tambahan.....

"kami moderat, koq....."


Wallpaper Terakhir

Foto laptopku ternyata ada. Foto terakhir dan satu-satunya. Meski hanya tampak layarnya saja, setidaknya inilah walpaper terakhir.

Daerah-daerah yang akan dikunjungi saat keliling Indonesia nanti. Piihan itu pun belum menemukan jawabannya

Kamis, 19 Februari 2009

Notebook vs Backpacking

Saat sesuatu yang cukup berharga menghilang, maka perhitungan perencanaan selanjutnya menjadi kacau. Di sinilah prioritas butuh pengelolaan yang baik. Laptop hilang memang bikin sengsara. Bukan karena hilangnya, tapi ketidakpastian langkah yang harus diambil ke depannya dan ketidakjelasan nasib laptop itu sendiri.

Hidup ini memang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Sebelumnya, emal pernah harus memilih untuk menggunakan simpanan beasiswa dan tabungan untuk membeli kamera atau tetap ditabung untuk keliling Indonesia. Wuuiiiiikkkkk keliling Indonesia. Juli-Agustus InsyaAllah. Hihaaaahaaaa.........semangat

Konyol memang, untuk mendapatakn SLR memang belum cukup. Untuk keliling Indonesia mungkin cukup dengan melunta-lunta. Akhirnya dengan bersemedi 4 hari 4 malam plus Istikharah ber-rakaat-rakaat, ditambah wangsit Mbah Mojo di Trowulan sampai wejangan Kyai Arifin di Ampel…..diputuskanlah menyimpannya untuk keliling Indonesia. Sembari terus menabung biar gak ngelunta-nglunta banget lah.

Sampai suatu hari di mana bursa pemilihan itu mencuat kembali dengan hilangnya laptop. Keliling Indonesa atau beli laptop anyar. Beli laptop jelas gak cukup kalo gak yang bekas dengan merk kacangan. Plus pembatalan keliling Inonesia Agustus nanti. Berat................ di tengah pengerjaan proposal dan beberapa tugas, ditambah kerjaan online lainnya, laptop memang dibutuhkan. Masih setengah-setengah kalo harus minjam sana-sini atau mencuri satu singgasana di kantor.

Pilihan yang sulit.
Postingan pertama tanpa foto.........bahkan emal tidak punya foto laptopnya.
Apakah aku tidak mencintai laptopku? (baca juga)

Jumat, 23 Januari 2009

Ekspedisi Lawu

Selesai juga kisah perjalanan ini, setelah sekian lama tertunda oleh satu dan lain hal. Tidaklah seberapa, hanya ingin memberi sesuatu sebagai bentuk tanggung jawab terhadap para pembaca bizesha serta semua orang yang turut berperan dalam perjalanan tersebut.


teks : Emal
foto : Ali, Anya, Emal

Selamat menikmati!

Ooohhhhhh.......Aspal! (Hari ke-1)

Bubur Jakarta yang merupakan satu-satunya bubur yang dijajakan di Keputih telah mengawali perjalanan kami pagi (25/12) itu. Nikmatnya bubur yang kami santap diharapkan menular pada nikmatnya perjalanan menuju Magetan. Untuk kesekian kalinya, Emal dan Ali melakukan perjalanan. Perjalanan dengan satu motor. Berdua saja…..
Tujuan = Gunung Lawu
Lokasi = Kabupaten Magetan
Rute = Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Caruban-Madiun-
Maospati-Magetan.
Kami sudah bosan dengan jalur yang satu ini. Rute itu-itu saja setiap akan menuju daerah barat Jawa Timur. Jalur konvesional memang mudah, cepat, dan hemat. Sungguh sangat efisien memang. Tapi MEMBOSANKAN. Kami bosan menelusuri jalanan arteri lebar tanpa sesuatu yang sedap untuk dipandang. Kami jengah harus berjibaku dengan besarnya truk-truk besar dan ugal-ugalannya bis antar kota. Kami muak harus bertarung dengan cepatnya Panther, Jazz, Yarist, atau LSX sekalipun. Pun kami sudah tidak tertarik lagi menelusuri lorong-lorong Jombang, Nganjuk, Caruban ataupun Madiun. Berjibaku dengan padatnya kota yang harus pula disela banyaknya traffic light.

Sungguh, kami bosan kawan! BM 4775 CF butuh lebih dari sekedar kenyamanan, butuh sebuah kebebasan, dan butuh……..tantangan. kami putuskan memakai rute baru. sebuah rute yang tidak akan pernah dibayangkan orang jika hendak bepergian dari Surabaya ke Magetan.

hamparan sawah


Surabaya-Menganti-Benjang-Balongpanggang-Mantup-Ngimbang-
Sukorame-Kedungadem-Temayang-Bubulan-Sekar-Kaliklampok-
Karangjati-Ngawi-Maospati-magetan. Keluar melalui Jalan Menganti Raya di Surabaya Barat dan akan keluar di ruas Caruban-Ngawi, tepatnya daerah Karangjati. Sebuah rute yang tidak akan pernah kami lewati lagi jika akan ke Magetan. Kami bersumpah.

mereka yang di sawah


Awalnya kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Jalanan lengang meski dengan lebar seadanya. Kondisi jalan dengan aspal yang cukup baik. Sepanjang jalan kami melewati sesuatu yang berbeda-beda. Terkadang kita akan dimanjakan oleh hamparan sawah hijau. Lain waktu melewati padang palawija. Hutan jati pun tidak sedikit untuk ditemui. Bahkan suatu saat kami pernah menemukan hutan jati yang tumbuh di sawah. Satu hal yang cukup menyenangkan adalah bertegursapa dengan setiap orang di setiap kota yang kami lalui. Sekedar untuk menanyakan arah, sebab peta yang kami bawa agak sedikit membingungkan. Maklum saja, rute yang kami lalui bukan jalan arteri atau jalan nasional, bukan pula jalan propinsi.

para pencari kayu bakar


demi anak istri, sendiri dalam belantara


Setelah melewati banyak bukit dan lembah tanpa harus mengantri di traffic light, kami pun sampai di Temayang. Sebuah kota kecil di Kabupaten Bojonegoro. Jalan pun bercabang, kami pun memilih arah kanan. Inilah awal malapetaka kami. Dari Temayang, selanjutnya kami akan melalui daerah Pegunungan Kendeng. Salah satu pegunungan di Jawa Timur yang memangjang di bawah Pegunungan kapur Utara.

“Kebosanan mulai merasuki kami. Ketakutan pun mulai menunjukkan tajinya.”


Sampai di Bubulan kami kembali bertanya, “Oh…Sekar. Banyak perempuan cantiknya tapi kasar.” Begitu kata bapak tua yang kami temui di pasar. “Trus aja …..lewat hutan itu! Nanti ada penjaga hutan di pertigaan tanya saja lagi!” terang bapak tua. “ati-ati harimau!” peringatnya lagi dengan bercanda. Dan kami benar-benar melewati hutan. Setelah bertanya di pos kehutanan pada jagawana kami pun masih melewati hutan. Peringatan bapak tua tadi teringang kembali. “ati-ati harimau!”

jalan inilah yang kami lalui


Kami masih berada di hutan. Jalan mulai menanjak pertanda telah memasuki daerah pegunungan. Hutan belantara yang rimbun pohonnya memang telah kami lalui. Tapi kami masih berada di hutan, karena memang tidak ada rumah di sekitar kami. Hanya ada hehijauan dan kayu-kayu kering di sana sini. Parahnya jalanan tidak lagi aspal, tapi tanah. Bayangkan, saat Surabaya-Solo akan menjadi tol, kami melaluinya di tanah-tanah berkerikil yang tak jelas rimbanya. Di hutan ini, kami hanya menemui para pencari kayu bakar. Sepanjang jalan ada saja yang mencari kayu bakar. Entah akan digunakan untuk apa atau akan dibawa kemana. Kami terlalu lelah dan matahari pun telah tinggi untuk sekedar berhenti bertanya.

jembatan Surabaya-Magetan


Kebosanan mulai merasuki kami. Ketakutan pun menunjukkan tajinya. Takut harus mendorong motor karena ban bocor mengingat kondisi jalan yang riskan. Tak jelas kami akan mendorong ke mana dan berapa lama. Belum lagi harimau. “Tenang aja, kalo ada harimau menghadang segera ambil kamera. Ambil gambar harimaunya setelah itu pikirkan nanti!” guyonan yang sedikit menghibur. Dan kami masih melewati hutan. Melewati jalanan tanah sampai akhirnya menemukan sebuah desa. Dan ternyata Sekar yang ada di peta hanyalah sebuah desa.

Pegunungan Kendeng, neraka bagi kami


Secara administrasi, jalur yang kami lalui masuk dalam kabupaten Gresik, Lamongan, dan Bojonegoro. Sepanjang daerah Gresik dan Lamongan jalan masih mulus. Sampai di Bojonegoro, jalan merusak dan banyak desa terpencil seperti Sekar ini. Dari sini saja kami dapat menyimpulkan kesejahteraan sebuah kabupaten dibanding kabupaten lainnya. atau kepedulian daerah pada desa-desa terpencilnya. Tidak kami sangka, sebuah desa kecil yang berada di negeri entah berantah yang hanya bisa dilalui dengan jalan tanah dan beberapa aspal yang telah rusak, bisa muncul namanya di peta.

ladang jagung, hanya sedikit menghibur


Kami teruskan perjalanan, masih dengan jalanan yang rusak parah dan masih dalam daerah teritorial Sekar. Kami sudah benar-benar bosan sehingga tanpa sadar kami baru sampai di Kaliklompok, yang tak jauh beda dengan Sekar. “Jalan rusaknya masih jauh pak?” tanya kami pada seorang bapak. “Wah…yang rusaknya parah 5 km lagi mas.” Lah terus yang gak parah berapa kilo…tanya kami dalam hati. Semangat kami tidak lagi untuk menikmati kanan kiri kami. Yang penting keluar dari penderitaan ini. 5 km benar-benar neraka. Jalan yang kami lalui bukan tanah, tapi bebatuan runcing. 10 km/jam kecepatan kami. Merayap di hutan dengan badan yang mengangguk-angguk karena kasarnya jalan. Dan kami sadar, akan kami pertaruhkan apa saja untuk lebih memilih rute 50 km dengan jalan yang mulus. Sampai akhirnya…………………oohhhhh aspaaaaaaaal.

ooohhhhh....aspal, pertemuan pertama setelah berkilo-kilo melalui tanah dan batu


Kami benar-benar mendapat suasana baru. Namun itu semua lebih dari yang kami inginkan. Yang kami dapat tidak sebanding dengan yang kami alami. “Gimana Li, kita pulang lewat sini lagi?” tanyaku. “Mending mati aja deh!!”

Sarangan, Saatnya Berburu....! (Hari ke-2)

Hari ini hari kedua di Sarangan. Masih ada dua hari lagi sebelum naik ke puncak Lawu. Kami putuskan dua hari ini untuk melakukan pemanasan. Hari ini pemanasannya adalah menuju Air Terjun Ngadiloyo. Salah satu objek wisata di sekitar Sarangan yang juga banyak dikunjungi. Kami berangkat pagi sekali. Berniat mandi agar tidak dilihat orang. Berrrrrrrrr……dingin.


jalan menuju Ngadiloyo

Perjalanan menuju Ngadiloyo tidaklah terlalu lama. Namun cukup untuk pemanasan hari pertama. View-nya juga bagus. Kiri kanan hanya ada bukit tinggi nan terjal. Kami serasa kecil dibuatnya. Belum lagi angin lembah yang bertiup diantara dua bukit itu. Sejuuuk rasanya……

Ngadiloyo dua tahun lalu


Ngadiloyo saat ini


Ngadiloyo sudah berubah sejak longsor dua tahun lalu. Kini mereka berbenah. Didesain sedemikian rupa. Waktu kami ke sana sedang dalam perbaikan. Tapi sudah dapat meramalkan hasil akhirnya. Sebuah air terjun dengan banyak kolam yang dibuat berundak-undak. Akan banyak pula air yang terjun. Aku makin bangga akan Teknik Sipil. Di tempat sempit dan penuh batu seperti ini, masih saja bisa dibangun bangunan yang indah. “Tidak ada yang tidak bisa dikerjakan oleh Teknik Sipil,” begitu kata Prof Noor Endah. Kalau boleh menambahkan Bu, “tinggal benar atau salah dan boleh atau tidak saja membangunnya.” Pasti Bu Profsetuju.

pemandu jalan (maaf...kami gak butuh)


“Kiri kanan hanya ada bukit tinggi nan terjal. Kami serasa kecil dibuatnya. Belum lagi angin lembah yang bertiup diantara dua bukit itu. Sejuuuk rasanya……”


Hari ini kami lebih banyak menikmati indahnya Sarangan. Beruntung sekali kami datang saat air telaga berada pada debit puncaknya. Tak berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya. Tak ada yang berbeda dengan Sarangan. Masih dengan speedboat-nya. Kuda-kuda yang disewakan. Penajaja sate dan bakso. Pengunjung yang datang dengan keluarga, teman, atau pasangan. Monyet-monyet yang turun gunung. Dan sebagainya.

Inilah saat berburu foto.



Siang hari ini, kami bertemu dengan teman lama semasa SMA. Sudah janjian sehari sebelumnya. Mereka kulaih di salah satu Sekolah Keperawatan di Maospati. Lima tahun sudah tidak bertemu, semenjak dirinya pindah ke Caruban sejak pertengahan kelas 2. Namanya Surti Ratna Ningsih. Di sekolah biasa kupanggil Mbak Surti. Dia datang bersama kakak sepupunya yang juga satu sekolah dengan kami dulu. Risa namanya, adik kelasku dulu, juga adik kelas Mbak Surti.

“Suaminya gak dibawa, mbak?” tanyaku. “Halah koen iki Mal, bukannya sampean yang katanya dah nikah?” balasnya. Huahahaaaaaa. Kata-kata itulah yang mengawali pertemuan kami. Topik yang selalu enak untuk diperbincangkan untuk anak muda seumuran kami. Munafik sekali bagi yang menyangkalnya. Kami habiskan sisa hari itu untuk bercengkrama melepas dahaga rindu karena lama tak bertemu. Bercerita tentang teman-teman masa lalu, kenangan-kenangan tak terlupakan, aktivitas saat ini, sampai rencana-rencana ke depan.

(mbak Surti, Risa, n.....anak Narsis)

Sarangan serasa begitu bersahabat dengan kami. Selain bertemu dengan teman lama semasa SMA. Dunia ini terasa kecil rasanya setelah ketemu Arul. Pria bernama lengkap Azruldin Azis ini berkesempatan ke Sarangan setelah mengahadiri undangan pernikahan temannya di Magetan. Yah….siapa yang menyangka mas………? Sayangnya, Ali yang sedaerah dengan mas Arul tidak sempat bertemu. Kecewanya dia. Duh Ali….maafkan daku.