Jumat, 23 Januari 2009

Dari Sate Ponorogo ke Tahu Bakar Pacitan (Hari ke-6)

Sepertinya kami dianugrahi darah seorang petualang. Setelah 24 jam menempuh perjalanan dan hanya diimbangi tidur selama sekitar 6 jam setelahnya, kami sudah memaksakan diri untuk mengebut Smash menuju Pacitan. Sebagian orang menyatakan kami agak gila. Masa sih? Biasa aja kali. Kami Cuma tidak ingin membuang waktu terlalu banyak dalam mempersiapkan UAS nanti. Setidaknya untuk sekedar membolak-belik kertas….lalu tertidur.

Setelah sarapan lebih dari secukupnya kami berempat pun berangkat. Sebelum Pacitan kami mampir-mampir dulu, tujuan pertama adalah rumah Mbak Lutfi di pinggiran kota Ponorogo (secara administrasi masih masuk Kabupaten Madiun). Sekedar untuk numpang makan siang ma nganter Anya yang kebelet mandi. Heheeee. Hari itu juga dia mau balik ke Surabaya. Lanjut……………


Siang itu, tepat sebelum menempuh jalanan Ponorogo-Pacitan yang terkenal rawan longsor, kami berkenan ditraktir Sate Ponorogo. Mbak Lutfi yang punya gawean. Secara umum sate ini sama saja dengan yang lainnya. Satu hal yang membedakan adalah gratisnya, karena ditraktir itulah yang membuat lebih maknyus. Tapi tetep, gak bakal ada yang ngalahin uueeenaaknya Sate Padang. Top Markotop dah.


Siang itu juga kami berpisah dengan dua perempuan tersebut. Setelah dua hari-an kami berempat bersama. Kali ini harus berdua lagi. Sama Ali lagi. hihiiiii……horor juga keliatannya. Ya Allah, cepatlah beri hambamu ini pasangan yang sebenarnya!!? Maunya.

Tegalombo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pacitan. Kota Tegalombo menandakan separuh perjalanan dari Ponorogo menuju pacitan. Di kota kecil inilah kami rehat sejenak. Kotanya tidak besar. Seperti desa saja kesannya. Berbentuk radial, memanjang mengikuti jalan. Seperti kebanyakn ruas jalan Ponorogo-Pacitan, yang memiliki bukit di sebelah kanan dan sungai atau jurang di sebelah kiri. Begitu pula Tegalombo yang berada antara bukit terjal dan sungai. Di kota inilah dulu Emal’s Father pernah menuntut ilmu. Belajar pada sebuah sekolah Muhammadiyah pertama yang ada di Tegalombo. Dan tujuan kami di kota kecil ini adalah mencari pendiri sekolah tersebut.

“Setelah dua hari-an kami berempat bersama. Kali ini harus berdua lagi. Sama Ali lagi. hihiiiii……horor juga keliatannya. Ya Allah, cepatlah beri hambamu ini pasangan yang sebenarnya!!?”


Pendiri Sekolah Muhammadiyah di Tegalombo

Namanya Sofyan Sudja’. Guru sekaligus salah satu pendiri sekolah Muhammadiyah di Tegalombo. Sekarang umurnya sudah kepala tujuh. Meski begitu, fisiknya menutupi usianya. Sehat walafiat….jasmani dan rohani. Senang, terkejut, tidak menyangka, dan bangga dirinya saat bertemu anak dari anak muridnya. Aku pun bangga bertemu dengannya. Kami pun o bercerita, tentu saja tentang Bapak sebagai murid Pak Sudja’. Lewat kecanggihan telekomunikasi dengan perantaraku, akhirnya bapak dan gurunya berbicara lagi setelah bertahun-tahun tak bertemu. HP itu ternyata mampu menyambung silaturrahim yang telah lama putus……..



Adzan Maghrib menyambut kami di kota Pacitan. Masih sempat kami melihat matahari terbenam di balik perbukitan. Dan kami baru sadar, bahwa pacitan adalah kota di ujung teluk yang di kelilingi perbukitan. Perbukitan tersebut membentuk huruf U dengan kota ditengahnya yang menghadap Teluk Pacitan. Sebuah kota tersembunyi. Sama seperti namanya yang jarang dikenal orang. Sama seperti kenapa Soedirman memilihnya untuk bergerilya. Kota yang Fantastis.

Tahu Bakar khas Pacitan

Sebelum terlelap mengistirahatkan badan setelah seharian menunggangi BM 4775 CF, kami sempatkan keliling kota dan mencari makan di alun-alun. Kamu pun baru menyadari, inilah kota di mana masih terhampar berhektar-hektar sawah ditengahnya. Kita lihat saja…apa yang kami dapat esok hari. Sekarang makan tahu bakar saja dulu. Khas Pacitan dan banyak terdapat di alun-alun. Dicoel dengan sambel kecap plus tambahan mie rebus campur telor agar kenyang…………uueeenaaaakkk tenan. Tahu Bakar memang jajanan yang lumayan terkenal dan menjadi ikon Pacitan. So, jangan pernah dilewatkan.
Sangat cocok untuk mengganjal perut sebelum tertidur di atas kasur bersprei putih. Whuaaaaaahhhh.

Sudut kota Pacitan

Pacitan, Potensi yang Tersembunyi (Hari ke-7)

Pagi ini kami merasa tidak salah pilih penginapan. Sedikit lebih mahal dari penginapan yang pernah kami diami di Kediri. Namun masih lebih murah dibanding standar penginapan di Batu. Kami puas dengan apa yang mereka sediakan di restonya. Saat sarapan gratis, kami dimanjakan oleh tumpukan buku tentang Indonesia, manusia, budaya, dan segala macam isinya. Belum lagi timbunan National Geograpich Indonesia yang membuat kuning mata kami. Nasi Goreng yang sedikit itupun terasa sudah lebih dari cukup untuk sarapan kami. Terbayar oleh gambar dan coretan dalam buku-buku tersebut. Benar-benar kenyang………

Belum kami putuskan apakah akan kembali ke Magetan hari ini juga atau besok pagi. Akan kembali melewati rute saat berangkat atau melewati rute baru melalui Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Karanganyar, dan naik ke taawangmangu, dan ti di Sarangan lagi. Semua bisa terjadi, kami hanya pasrahkan pada waktu, dan itu urusan nanti. Sekarang kita serbu dulu Pacitan.

Pantai Teleng Ria

Tidak banyak yang kami tau tentang Pacitan sebelumnya. Hanya beberapa informasi yang kami dapat pagi ini. Berangkat! Tujuan pertama adalah Pantai Teleng Ria. Berada di Teluk Pacitan dan tidak jauh dari kota. Benar-benar dikelola karena kami harus bayar untuk masuk ke komplek pantai. Sepi, gerimis kemudian hujan, dan……..lumayanlah. Cukup lebar, Teleng Ria membentang sepanjang ujung teluk. Tidak terlalu putih namun cukup menarik. Seperti di Prigi, karena banyak warung berjajar di sekitar pantai ditambah adanya pelabuhan nelayan, pantai jadi sedikit kotor dan kurang enak dipandang.

Srau 1


Terus menuju ke barat melalui jalur Pacitan-Wonogiri. Saat melihat papan petunjuk mengarah ke kiri bertuliskan Pantai Srau, Pantai Watukarung, Pantai Klayar; kami langsung banting stir. Tujuan pertama adalah Pantai Srau. Sekitar 25 km dari kota Pacitan. Gila……………………………………………………… kami benar-benar girang. Jantung ini rasanya melonjak-lonjak melihat Srau. Kami yakin masih banyak yang melebihi indahnya Srau, tapi sudah sangat berterimakasih sekali kepada Tuhan akan hal ini. Tidak ada tiket masuk, tidak ada penjual makanan, tidak ada sampah. Hanya para penduduk sekitar yang sedang menjemur rumput laut di sisi-sisi pantai.

menjemur


memancing


“Tidak hanya pasir putih, kami pun disuguhi gelombang yang menabrak karang-karang tinggi. Suaranya saja mampu menentramkan hati.”


Srau 2


Srau merupakan nama untuk satu tempat. Tapi pantainya ada tiga lokasi yang terpisah oleh perbukitan karang. Semuanya benar-benar luar biasa. Subhanallah, Wonderfull man……….. dan saat perjalanan pulang, kami berpapasan dengan seorang bapak dan istrinya datang dengan sebuah sepeda motor. Apa yang mereka bawa? Papan Selancar.

Srau 3


anak Srau


Next, Watukarung. Kami tidak menyadari bahwa pantai hitam nan bersih di tengah celah sempit bebatuan dan dipenuhi oleh puluhan kapal nelayan tersebut adalah Pantai Watukarung. Kami mengira itu hanya pantai untuk para nelayan saja. Kecuali beberapa ratus meter dari situ, dibalik sebuah perkampungan kami menemukan sebuah pantai yang tersembunyi. Kami lebih memilih pantai itulah Watukarung. Benar-benar berada di balik sebuah kampung. Tak jauh indah dengan Srau. Lebih lebar dan terdapat beberapa pulau kecil di tengah teluknya. Mmhhhhh……….

Pantai Watukarung


Perjalanan menuju Klayar tidak pernah kami bayangkan akan sesulit sebelumnya. Ketakutan seperti saat hari pertama di Sekar kembali melanda kami. Berada di jalanan rusak di tengah hutan berbukit-bukit. Syukurlah tidak terlalu jauh, tapi kami masih harus berbelok ke selatan lagi menuju Pantai Klayar. Semua aspal, tapi semua rusak. Kami hanya berharap apa yang kami lihat nanti bisa mengobati perjalanan ini. dan itu benar. Kami puas. Puas sekali……. Jalanan rusak membuat banyak orang enggan ke Klayar. Sehingga kami merasa pantai ini hanya miliki kami. Tidak hanya pasir putih, kami pun disuguhi gelombang yang menabrak karang-karang tinggi. Suaranya saja mampu menentramkan hati. Kami tidak akan pernah melupakan ini semua…………………terimakasih Tuhan!?


sudut-sudut Klayar

Pacitan lebih dikenal dengan Seribu Goa-nya. Secara tidak sengaja kami menemukan 2 diantaranya saat perjalanan pulang ke kota Pacitan. Pertama, tepat berada di bibir jalan. Goa Klatak kalo kami tidak salah ingat. Sepi sekali goa ini. kami pun hanya mengambil gambar seadanya. Goa kedua adalah Goa gong yang kami ketahui secara tidak sengaja, padahal sangat terkenal namanya. Kami sisihkan waktu sejenak untuk masuk ke dalamnya. Penuh lampu berwarna, kipas besar untuk menghilangkan panas, dan tentu saja tangga stainles yang memudahkan pengunjung menjelajahi goa hingga ke ujung bawah.

Goa Gong

Sebenarnya kami juga menemukan papan penunjuk jalan menuju Goa Tabuhan. Tapi kami merasa sudah terlalu siang untuk berbelok menempuh beberapa kilometer lagi. Kami pun pulang ke kota Pacitan. Lapaaaaar……. (belakangan terlihat sebuah gambar menarik dari sudut-sudut Goa Tabuhan di internet, menyesal rasanya).

hari benar-benar masih siang. Kami putuskan untuk kembali saja ke Magetan suapaya besok bisa langsung ke Surabaya. Lewat rute saat berangkat saja supaya cepat. Toh kami sudah puas dengan Pacitan. Sangat puas……….! Setelah berkemas, shalat, dan makan……kami pulang. Dan Magetan pun menyambut kami dengan hujan sore itu.

Sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Mengasyikkan dan penuh tantangan. Namun sayangnya besok kami harus pulang.

Selamat Tinggal Lawu, Selamat Jalan Mbah Putri (Hari ke-8)

Hari ini 1 Januari 2009. Tahun telah berganti, namun situasi tak ikut berganti. Tidak ada yang berubah hanya dengan tahun baru. Tertawa dahaga menyaksikan semua orang merayakan tahun baru. Lucu saja menyaksikan mereka menunggu detik-detik perubahan dari 23.59 ke 00.00. Seolah dengan perpindahan detik tersebut dapat membuat perubahan dalam hidup mereka. Selalu saja berharap ada perubahan di tahun baru. Tidak akan berubah jika yang diusahakan atau dilakukan ya seperti itu-itu saja. Lantas, jika ingin berubah harus melakukan sesuatu, kenapa harus menunggu tahun baru?

HP itu berdering dalam saku jaket. Dari Ibu di Riau. “………….. Mbah Putri Meninggal!?”


Malam ini, aku tidur saja. Sama seperti hari-hari sebelumnya selama sepekan ini, seranjang dengan Ali. Huhahaaa. Terlelap di malam tahun baru lebih terasa nikmat bagi kami setelah perjalanan dari Pacitan. Hari itu juga kami mesti kembali ke Surabaya. Menempuh perjalanan 200 km di atas roda dua. Kami pulang juga……Mbah, Budhe, Pakdhe….pulang dulu ya?
selamat tinggal Sarangan.....selamat tinggal Lawu

Kami tinggalkan Lawu beserta ribuan pesonanya. Terimakasih atas semua. UAS menanti kami harus pulang. Petualangan selesai, kewajiban pun harus tertunai. Selamat Tinggal Lawu!

Sebelum pulang mampir dulu di kerajinan kaca Magetan. Kata yang punya Cuma satu-satunya di Pulau Jawa. Cabang dari Bali katanya. Wah keren juga, di Magetan lagi. Jadi, di kerajinan kaca ini semua hasil karya berbahan baku kaca. Semua kerajinan pasti ada unsur kacanya, dan kebanyakan berupa cermin. Wuiihhhh….boleh juga. Beli satu! Buat kado ultahnya Tyzha. Budaya memberi kado harus dibiasakan, terutama di lantai 6.

kreatif dari kaca

Di Madiun ketemu Mbak Surti lagi. Kebetulan sama-sama ke arah Timur. Mau pulang ke Caruban dirinya. Salam perpisahan untuk entah berapa lama lagi sampai kami bertemu lagi. Teman yang tak akan terlupakan. Sudah sampai Caruban, sudah banyak kami berpisah dengan banyak hal. Lawu, Magetan, Keluarga, Sahabat…….sampai akhirnya di Nganjuk, Emal harus berpisah dengan satu orang lagi.

HP itu berdering dalam saku jaket. Dari Ibu di Riau. “Bapak hari ini ke Jakarta, Mbah Putri Meninggal!?” Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun…

Thank's to.......

Begitu banyak yang harus kami berikan ucapan terimakasih atas perjalanan ini. Satu pekan tidaklah lama. Lawu tidaklah seberapa. Bagi kami, perjalanan ini adalah awal dari segalanya. Tanpa mereka-mereka ini……..sulit rasanya untuk dapat merasakan sensasinya. Terimakasih semua…….
Allah yang memberikanku hidup dan menciptakan semua yang telah kurasakan.
Rasulullah yang membekali perjalananku
Ibu dan Bapak atas izinnya……Mbak Ita dan Naya atas dukungannya
ITS untuk minggu tenangnya
Lantai6 yang selalu menagih oleh-olehnya
Al-Azzam yang selalu rame (rencana terus…kapan ke Bandung?)
PPSDMS Reg IV angkatan 3, maaf gak bisa ikut ke Jember
Ayos, Lumiksnya bermanfaat banget
Hafidz, maaf kalo isi pocketmu banyak foto narsisnya Ali
Ihsan, makasih juga pinjeman kameranya
Mbak Lutfi untuk traktiran Sate Ponorogonya
Anya untuk Canon ma jepretannya
Budhe, pakdhe, n mbah atas rumah dan makananya
Mbah De untuk penitipan motornya
Para petugas SPBU
Para penunjuk jalan kami
Anak Gunung Lawu
…….Dan Ali untuk semuanya
Serta semua yang lupa untuk disebut satu-satu.

Sekali lagi terimakasih semua (koq seperti abis bikin album ya……bikin buku kali ya)
Huahahahaaaaa. Setidaknya belajar dari sekarang. Belum bikin bukunya, ucapan terimakasih pun jadilah.

Berikut beberapa gambar yang menarik selama perjalanan…..selamat menikmati.yang tak boleh tertinggal


Ini Saranganku!


ini juga saranganku!


tolooooong....


tongkat mas.....biar gak capek


sayur....sayur....asli Sarangan....masih seger


EAST


supire loyo


....Hai Girl....


(untuk Ali deh......)


(ini juga kerjaan Ali)


yang beginian paling banyak di Sarangan


bulan depan aku bakal lamar kamu


kalo kamu gak tanggungjawab, aku terjun ke telaga!


capek!.....gendong donk!?


cowok yang foto aku keliatan lebih keren dech...


apa liat-liat? ngiri yach!?


kita masih kecil.....temenan aja yach!?


kita juga gak boleh kalah..


bu, mau gak ngadopsi aku?


ada bule.....


satu untuk empat


sudahkah anda Shalat?


pulang sekolah


kiri....kiri......terus


nyaamm.....nyammmmmm


saya model mas, ambil gambar harus bayar


aku ingin sendiri


bergaya sebelum turun


so sweet...