Sudah lewat pukul 10 malam. Aku belum tidur juga. Padahal sudah lebih satu jam berbaring di tempat tidur. Malam bertambah dingin. Pakaian tiga lapis ditambah satu selimut tebal masih saja membuat hidungku mampet, kedinginan. Padahal tidur di Sarangan bukan sekali dua kali. Masih saja belum terbiasa dengan udara malam pada ketinggian sekitar 1200 meter di atas permukaan laut ini. Namun, bukan kondisi ini saja yang membuatku belum juga terlelap. Seperti perjalananku yang lain, sulit sekali untuk langsung tidur di malam hari. Bahkan selelah apapun badan ini.Alih-alih kecemasan, ada semacam harapan yang membuat jantung serasa berdetak lebih kencang setiap malamnya. Sebelum tidur aku selalu bertanya-tanya perjalanan seperti apa yang akan aku lalui keesokan hari. Pengalaman menarik apa yang akan aku dapat. Orang seperti apa yang akan aku temui. Bagaimana tempat yang akan kusinggahi. Sampai cerita-cerita apa yang akan aku alami. Semuanya menjadi ritual yang tidak pernah tertinggal pada malam-malam di setiap perjalanan yang aku lakukan.
Dua malam sebelumnya, “ritual” serupa juga terjadi dengan sendirinya. Memikirkan bagaimana mengawali sebuah perjalan esok pagi. Menempuh jalur yang tidak biasa menuju Magetan. Melewati Gresik, Lamongan, Bojonegoro, kemudian turun ke Ngawi. Dan yang diharapkan, lebih banyak mengecewakan. Setidaknya aku tahu bahwa Jalur Selatan di Jawa Timur jauh lebih baik dan lebih menantang daripada Jalur Utara. Monoton dan Bergelombang, kerusakan hampir ada di seluruh ruas jalan sepanjang Gresik-Lamongan-Bojonegoro. Kecewa tapi menikmati. Terlebih saat BM 4775 CF akhirnya bisa bermanuver dengan kecepatan tinggi di jalur pegunungan kapur sebelum Ngawi.
Magetan, khususnya Sarangan bisa jadi tempat yang paling sering aku kunjungi selama kuliah di Surabaya. Simple, banyak sanak saudara di sana. Kedua, dingin, sejuk, tenang, dan menentramkan. Ketiga, aku suka gunung, aku senang ketinggian, aku tergila-gila pada jalanannya yang berkelok-kelok. Over all, aku suka pegunungan, di manapun itu.
Pegunungan pula yang menjadi rekan sepanjang perjalanan menuju Malang pada hari ketiga. Lagi-lagi mengambil jalur yang tidak biasa kalau tidak boleh dibilang “kurang kerjaan”. Magetan-Ponorogo-Trenggalek-Tulungagung-Blitar-Malang. Ponorogo-Trenggalek menjadi jalur favorit. Mendaki, menurun, dan berkelok-kelok khas pegunungan Selatan.
Pegunungan Selatan pulalah yang menjadikan aku gemar mengunjungi pantai selatan. Bukan semata-mata ingin tahu pantai itu sendiri, tapi juga perjalanan gunung menuju pantai. Tidak peduli mulus atau parah kondisi jalan, ada tantangan tersendiri. Terasa puas melihat ujung di pasir pantai setelah lelah menelusuri gunung dan hutan. Terbayar jauhnya trek dengan birunya air yang menyapu karang. Aahhhh…..Pantai Selatan is the best.
Pegunungan Selatan pulalah yang menjadikan aku gemar mengunjungi pantai selatan. Bukan semata-mata ingin tahu pantai itu sendiri, tapi juga perjalanan gunung menuju pantai. Tidak peduli mulus atau parah kondisi jalan, ada tantangan tersendiri. Terasa puas melihat ujung di pasir pantai setelah lelah menelusuri gunung dan hutan. Terbayar jauhnya trek dengan birunya air yang menyapu karang. Aahhhh…..Pantai Selatan is the best.
Hari keempat adalah perjalanan dari kota Malang ke Nongkojajar. Sebuah kecamatan kecil di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sekitar 20 kilometer ke Timur untuk sampai di Kaldera Bromo. Meski baru pertamakali ke Nongkojajar, membuatku langsung menetapkannya sebagai tempat singgah favorit dan berencana untuk kembali nanti-nanti. Berada di ketinggian sekitar 1700 meter dpl, kecematan yang berdekatan dengan kecamatan Tosari ini jauh lebih dingin dan sangat sejuk dibanding Sarangan. Jalur menuju ke sana tentu saja menanjak dan berkelok-kelok. Sangat menguji kemampuan berkendara kita.
Nongkojajar tidak begitu dikenal. Tapi di sinilah salah satu pusat produksi apel malang, selain Batu tentu saja. Tidak hanya itu, stowbery dan durian juga menjadi komoditas Nongkojajar. Jarak dari desa yang satu ke desa yang lain cukup berjauhan. Berada pada masing-masing punggung bukit. Dipisahkan oleh lembah-lembah yang cukup curam. Jalur jalannya pun harus dilalui dengan menyusuri hutan yang masih lebat, disamping kebun apel tentu saja. Ya, beginilah desa-desa Tengger di TNBTS. Sepertinya, aku benar-benar ingin kembali untuk lebih mengeksplornya…..
Nongkojajar tidak begitu dikenal. Tapi di sinilah salah satu pusat produksi apel malang, selain Batu tentu saja. Tidak hanya itu, stowbery dan durian juga menjadi komoditas Nongkojajar. Jarak dari desa yang satu ke desa yang lain cukup berjauhan. Berada pada masing-masing punggung bukit. Dipisahkan oleh lembah-lembah yang cukup curam. Jalur jalannya pun harus dilalui dengan menyusuri hutan yang masih lebat, disamping kebun apel tentu saja. Ya, beginilah desa-desa Tengger di TNBTS. Sepertinya, aku benar-benar ingin kembali untuk lebih mengeksplornya…..
Lima hari dalam perjalanan. Sekitar 1050 km jalur ditempuh. 11 kabupaten dilalui. Tujuh kota disinggahi. Empat pegunungan didaki. Dua sungai besar disebrangi. Tiga pantai ditelusuri. Tapi ini bukan tentang destinasi. Ini adalah perjalanan itu sendiri.
Bang Jenewar, atas pemberian kameranya. Perjalan ini untuk menguji ketangguhan pocket itu.
Anggi, yang telah memberikan info pantai-pantai di Blitar
Yasqi dan Rafi, membuat lelahku berujung senyum selalu
Anindi dan Tita, Nongkojajar terasa hangat dengan laku kalian
Dan Mbak Isti, karenamu malam itu menjadi malam terakhir perjalanan di mana aku tidur dengan nyenyak.








