Senin, 09 Maret 2009

Satu Tempat yang Terlupa

Yo……ayooo
Ayo Persebaya…

Sore ini…..

Kita harus menang…….!


Lagu itu bergemuruh menghentakkan stadion. Mengangkat emosi para penonton ke puncak tertiggi. Emosi yang juga dirasakan 11 pemain berbaju hijau. Untuk menang!
Sebuah nada dari Amerika Selatan, Chile tepatnya. Lagu yang digubah liriknya dan telah meng-Indonesia. Sederhana namun menggetarkan. Lagu inilah yang dibawakan Bonek Mania ketika mendukung laskar Bajul Ijo sore itu.

tanggung-tanggung, langsung ke stadion sekelas Gelora Sepuluh Nopember (GSN) yangUntuk pertama kalinya dalam sejarah hidup. Menjejakkan kaki di sebuah stadion. Gak kabarnya juga diproyeksikan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Bukan berarti akhir pekan tidak ada agenda. Tapi kami (saya, Fatih, Ibnu) hanya ingin merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan. Sesuatu yang tidak banyak dikenal orang Surabaya. Sesuatu yang sepertinya hanya pernah dirasakan para Green Force. Sesuatu yang hanya ada di Tambaksari. Datang sajalah dan rasakan.............

antri....

***
Belum lagi matahari condong ke Barat, jalan Tambaksari sudah sulit dilalui kendaraan. Lautan hijau sudha memenuhi pelataran stadion. Datang dari berbagai penjuru Surabaya, mulai Surabay bagian utara, selatan, barat, sampai timur semua berkumpul pada satu titik. Beberapa sudah antri di depan pintu masuk kelas ekonomi. Padahal suara peluit dimulainya pertandingan masih 2 jam lagi dibunyikan. Tiket masih saja laris manis. Gerombolan-gerombolan Ijo terus saja berdatangan. Semakin menyesakkan Tambaksari. Tak jauh dari kerumunan, puluhan brimob telah siaga. Mobil water canon pun terparkir dengan gagahnya. Berjaga.
Selepas Shalat Ashar kami pun turut mengantri di depan pintu tribun utama sisi kanan (SKA). Ada tiga macam tiket di GSN, VIP seharga Rp 50 ribu, Tribun Utama seharga Rp 30 ribu dan kelas ekonomi Rp 15 ribu. Kelas ekonomi memenuhi tiga per empat tempat duduk stadion. VIP dan tribun utama berada di sisi barat dengan bonus atap penjaa dari panas dan hujan. Bedany, VIP memakai kursi bersandar dari plastik. Sedangkan tribun utama dan ekonomi duduk di lantai berundak. Berbaur dengan penonton lainnya. Bersorak bersama dan melenguh bersama pula.

Bonek mania..

Sore itu, Persebaya kedatangan lawan dari Persitara Jakarta Utara untuk menjalani Leg I Copa Indonesia babak Perdelapan Final. Wajar jika animo Bonek mania cukup tinggi. Tercatat dalam pengumuman, ada 21 ribu orang memenuhi stadion sore itu. Mereka pun hanya melawan puluhan suporter Persitara yang ada di depan kami. Sebuah noktah biru kecil di belantara hijau stadion. Sepertinya 11 pemain Persitara di lapangan pun dibuat ciut nyalinya. Siapa sih yang tidak kenal Bonek?

Pertandingan cukup keras di awal babak pertama. 4 kartu kuning sudah keluar. Bonek pun mulai memanas. Kecewa dengan kinerja wasit dengan meneriaki ”wasiit ngantuuuk” atau karena kinerja pemain Persebaya yang tidak sesuai harapan mereka. Di sinilah chemistry berada di stadion bersama puluhan ribu orang benar-benar terasa. Diiringi yel-yel Bonek mania, semua menjadi melodi yang mengguncang emosi. Emosi yang hanya di dapat di stadion, tidak saat menonton di televisi, tidak pula saat menikmati action di bioskop. Datang sajalah dan nikmati sendiri............

Kita akan spontan berdiri saat muncul peluang di depan gawang. Semua akan kecewa saat peluang tersiakan. Semua akan marah saat pemain di langgar. Semua.....tidak ada yang tidak. Ribuan orang tersebut pun mampu membaut orang yang tidak suka sepakbola untuk bangkit melonjak meninju udara dan berteriak kegirangan saat gol tercipta. Berteriak sejadinya....emosi pun terpuaskan. ”OOoooooOOOooooooo......OoOooOOoOoooooOO...oooo”

Inilah sebuah hiburan yang tidak banyak dikenal di Surabaya. Sebuah tempat yang tidak masuk dalam objek yang dikunjungi di Surabaya. Tidak bagus tempatnya namun indah dilihat mata. Kumuh dan berjubel terlihat namun nyaman terasa. Bukankah hijau adalah warna yang nyaman dan menentramkan. Saat Persebaya bermain, tidak hanya lapangan, stadion akan berubah menjadi hijau. Emosi itu semakin terasa. Datang sajalah dan nikmati....!

Dua gol tercipta sore itu untuk keunggulan Persebaya. Tidak sia-sia. Rp 15 ribu untuk satu gol yang kami lihat dari Tribu Utama plus kepuasan batin yang hanya satu tempat yang bisa memberinya.

***
Di tengah pertandingan situasi memanas saat masih saja ada Bonek mania melempar barang ke tenga lapangan karena kecewa pada wasit. Suporter Persitara yang hanya puluhan itu pun mengluarkan yel-yelnya.....
Kami tidak suka rusuh
Rusuh itu tiada guna

Kita ini satu bangsa

Bangsa Indonesia

pulang dengan kemenangan

Jumat, 06 Maret 2009

Majalah Itu Terselamatkan Mukanya

Majalah edisi pertama untuk tahun 2009 sebentar lagi terbit. Asyik....asyiikkkkk....asyiiiiiiiiiiiiiikkk. Perjuangan anak-anak Online bakal terbayar dengan terbitnya majalah itu. Terbit saja kami sudah senangnya bukan main. Ada kepuasan saat melihat kerja keras (padahal banyak yang telat) kami berbuah. Dalam hati kecil kami, tak dibayar pun kami rela. Kepuasan itu melebihi apapun. Heheeeee

Namun, kepuasan itu hampir saja raib di detik-detik terakhir sebelum draf naik cetak. Semua ini gara-gara cover yang satu ini...ni......

Maksudnya sih baik dengan menampilkan mereka di halaman depan. Mereka-mereka yang telah berprestasi mewakili beberapa mahasiswa lainnya yang menunjukkan ke-eksis-annya pada bidang-bidang tertentu selain kuliah. Tapi koq keliatan seperti majalah remaja. Deteksi banget gituu.... bagus memang dan enak dilihat dan pastinya cukup menarik perhatian pembaca untuk melihat isinya.

Tapi koq ya gak ITS banget gitu. Bisa dipastikan nantinya bakal muncul pro dan kontra. Setelah akhirnya melewati waktu-waktu genting, munculnya ide tak terduga, lobi-lobi yang alot (heheeee), dan berbagai macam pertimbangan. Muncullah cover yang satu ini.

Sebuah karya Hanif Santoso..............maknyus Nif

(tapi yang pertama juga karya Hanifsan.....heheeee)

Senin, 02 Maret 2009

Aku Cenderung Berbudaya Barat?!?

Seniman Tiongkok, Yang Liu, yang menempuh ilmu di Jerman pernah membuat sebuah ilustrasi yang membedakan antara budaya baran dan budaya Asia. Setidaknya terdapat sembilan ilustrasi yang dibuatnya. Anggap saja ilustrasi ini benar adanya dan memang terkesan benar adanya, beberapa diantaranya menyimpulkan bahwa seoarng Emal lebih dekat kepada budaya barat. Berikut rinciannya.

(Opini) Orang Asia cenderung berbelit-belit dalam hal berargumen, terkadang harus berputar-putar dulu untuk mengatakan sesuatu, padahal maksudnya tidak serumit yang dimaksud. Beda dengan orang Barat, langsung ke pokok masalah dan mereka nggak biasa basa-basi. Kalo aku memang gak suka basa-basi...apalagi ngeliat orang yang penuh dengan kepura-puraan dan suka mencari perhatian. Muak banget deh pokoknya.

(Waktu) Orang Asia terkenal kurang menghargai waktu, kalau ada janji, kadang tidak tepat waktu, banyak alasan. Orang Barat paling nggak suka kalau janji jam karet alias telat waktu. Jam karet dah biasa di Indonesia. Saking biasanya sampai hal yang salah dianggap hal yang lumrah. Paling males kalau memang harus menunggu. Dan menunggu adalah hal yang paling aku benci yang sayangi sering kualami.

(Gaya hidup) Orang Barat cenderung individualis, berbeda dengan orang Asia, kalau orang Asia khususnya Indonesia, makin senang kalau tetap deket sama keluarga, makan ora makan kumpul. Saat teman-teman pengen banget pulang kampung beberapa kali sebulan, aku yang jauh gak ada kangen-kangennya ma keluarga.

(Hubungan) Karena orang Barat lebih individualis, maka dalam pertemanan ataupun bersosialisasi cenderung terbatas, berbeda dengan orang Asia dimana dalam bersosialisasi atau pertemanan lebih komplek, makanya situs jejaring Facebook ataupun Friendster lebih banyak diminati oleh orang Asia, khususnya Indonesia. Kalau orang Barat sekedarnya saja. Kalo yang ini sih mendekatilah. Daripada kumpul rame-rame mending beberapa saja. Facebook pun menjadi nomor kesekian kalo sedang ngenet. Malah keseringan lupa buka.

(Perayaan/pesta) Jika ada kenduri atau pesta orang Asia lebih suka mengundang orang sebanyak mungkin kalau sedikit rasanya nggak afdol, bahkan ada yang buat acara beberapa kali dan dilokasi yang berbeda, contohnya dalam acara pernikahan, benar-benar pemborosan, berbeda dengan orang Barat, mau acara pernikahan saja undangannya lewat Fax. dan nggak semua orang diundang, cukup kerabat atau teman dekat, lebih sederhana dan nggak boros biaya. Kalo aku malah gak suka pesta. Lebih berat dari barat donk...

(Terhadap sesuatu yang baru) Orang Barat kalau ada sesuatu yang baru, tidak serta merta keblinger pengen tahu dan pengen memiliki atau memakainya , hanya sekedar tahu saja, berbeda dengan orang Asia, kalau ada sesuatu yang baru, belum puas kalau belum sampai memilikinya, makanya nggak heran kalau orang Indonesia banyak yang konsumtive, punya handphone gonta ganti, bahkan ada yang koleksi HP, mobil tiap tahun gonta-ganti, hanya karena nggak mau ketinggalan model. Di saat semua orang sudah jeprat-jepret pake HP. Aku masih saja nge-game Snake di HP. Saat status chating semua orang ada tambahan on my mobile atau i’m on sms atau apalah, aku masih saja terkdang pake status not at desk. Karena pake HP itu yah seperlunya saja. Kolot yach…..

(Anak)……sory, belum punya anak nih.

(Trendi) Jika orang Barat lebih seneng sesuatu yang berbau traditional dan alami, kebalikannya kalau orang Asia belum disebut trendi kalau tidak bergaya ke barat-baratan, contoh : orang Asia lebih merasa gengsi kalau makan di tempat fast food, padahal dinegara asalnya makanan tersebut bisa dibilang makanan biasa saja. Yang jelas Wapro lebih maknyus daripada Hanamasa. Mau tau kenapa? Karena belum pernah ke Hanamasa.

(Atasan/bos) Ini yang menarik, orang Asia umumnya memperlakukan atasan lebih dari yang lainnya, nggak sedikit yang j**at p**t*t , dan sang atasannya pun senang diperlakukan seperti itu. Berbeda jika di Barat, atasan tidak terlalu menonjolkan diri sebagai yang punya kuasa penuh, tetap sejajar dengan bawahan, namun tetap punya kekuasaan dan diakui sebagai atasan. Sebenarnya belum punya bos ataupun bawahan secara struktural sih. Tapi, dosen aja sering dipanggil namanya aja (dalam sms...heheee)

(Masa tua)....maaf lagi, aku belum tua.

(Transportasi) Dahulu orang Barat sewaktu muda lebih suka pakai mobil, sekarang malah lebih suka pakai sepeda, mungkin karena faktor pentingnya kesehatan berbeda dengan orang Asia, kalau dulu masih pakai sepeda (mampunya beli sepeda) sekarang sudah harus pakai mobil, kalau mampu lagi pakai supir pribadi. Susah nilainya kalo yang satu ini. Silakan bagi yang lain yang mau nilai.

(Di tempat makan) Ditempat makan, kalau orang Barat cenderung tertib jika sedang makan, nggak rame dan seberisik orang Asia. Kalo yang satu ini masih Asia banget. Makan diem mana seru. Kecuali makan sendiri.

(Wisata) Kalau lagi wisata, orang Asia paling suka photo-photo, beda sama orang barat, kalau ke tempat wisata lebih suka mengamati keindahan suasana daripada photo-photo. Kalo yang ini dua-duanya dilakuin.

(Keindahan tubuh ideal) Orang Barat merasa ideal punya warna kulit tubuh kecoklat-coklatan, makanya sering berjemur dipantai, beda kalau orang Asia terutama orang Indonesia, malah sangat mendambakan warna kulit putih, makanya di Indonesia paling laku tuh artis-artis Indo, malah nggak banyak yang kawin sama bule, biar memperbaiki keturunan. Kalo aku sih cukup seperti ini saja.

(Menghadapi masalah ) Kalau orang Asia lebih umum berpikiran bagaimana supaya bisa menghindari masalah, berbeda dengan orang Barat, bagaimana jika saya menghadapi suatu masalah. Makanya jangan heran kalau di Indonesia orang mau sukses ambil jalan pintas, mau bisnis sukses, main suap rekan bisnis, mau anak sukses jadi pegawai negeri, main suap sana suap sini, mau jadi caleg, asal punya duit jadi deh nomor urut 1, nggak sedikit yang datang ke dukun supaya lebih tercapai cita-cita jadi anggota dewan. Kadang barat...dalam beberapa hal jadi ke-asia-nan. Tapi gak sampai ke dukun segala, apalagi nyuap. Yang masih cerdas sajalah.

(Marah) Kalau orang Barat lagi marah, memang benar-benar marah, beda kalau orang Asia lebih banyak memedam amarah, terkadang ada istilah dibalik senyuman ada kebencian. Benci banget kalo ada orang marah tapi dipendam-pendam. Bikin gak enak hati. Abisnya dikeluarin di belakang kemudian.

(Percaya diri) Suka tidak suka orang Barat lebih percaya diri dibanding orang Asia. Kalo aku gak percayaan diri banget nih. Asia banget deh

(hari Minggu) Orang Asia lebih suka menghabiskan waktu hari libur Sabtu dan Minggu pergi jalan-jalan, sekedar pergi ke Mall, nonton bisokop, kongkow-kongkow, beda dengan orang Barat, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibanding pergi jalan-jalan. Wah..gak ketinggalan jalan-jalan akhir pekan. Hayo...mau kemana akhir pekan ini. masih Asia benget kalo yang satu ini.

(Makan) Umumnya orang Barat makan dibagi 3, makan pembuka, makanan Utama, dan makanan penutup, beda kalau orang Asia ketiga2x-nya makanan utama, alias Nasi tambah lagi cie !(logat padang). Kalo yang satu ini sih Indonesia banget. Nambah itu wajib kalo bisa.

Ternyata aku memang barat banget. Masa sih..perlu dicek ulang memang dengan teori yang lebih akurat.
lalu bagaimana dengan kalian??

Perjalanan yang Berbeda

Tanpa dinyana-nyana, jalan-jalan juga akhir pekan ini. Ditengah kepenatan studi pustaka untuk bahan proposal sembari menunggu para reporter mengirim berita majalahnya, siapa sangka ada saja waktu untuk jalan-jalan. Pengen sih tiap akhir pekan kelaur kampus ntah kemana......pastinya bareng Ali yang memiliki kemungkinan paling besar untuk bisa diajak. Apa daya, semester ini Ali justru sedang sibuk-sibuknya mengurusi tugasnya. Gentian Li, semester kmarin aku yang sibuk. Rasakanlah dan nikmatilah...huahaaaa

Sabtu (28/2) kemarin diminta tolong Pengmas BEM ITS turut serta untuk menyalurkan bantuan korban bencana banjir ke Bojonegoro. Berawal dari permintaan Infokom untuk mengirim reporter ke Bojonegoro plus yang bisa bawa mobil. Waduh, Sabtu itu reporter meliput semua dan yang bisa nyetir tersisa diriku. Berangkatlah sudah. Dengan syarat......

Satu, mobilnya harus yang OK. Dapatlah Rush. Kalo seperti ini siapa yang nolak. Coba suruh bawa kijang atau panther, kemungkinan besar ditolak karena sudah biasa bawa yang begituan. Heheeeee. (statement ini sedikit dilebih-lebihkan, apaun mobilnya berangkat koq, yang penting jalan-jalan). Kedua, aku gak mau ngeliput because sebenarnya itu tugas Infokom. Nah ITS Online yang seharusnya dapet berita dari Infokom BEM. Bukan sebaliknya seperti yang selama ini terjadi. Tapi karena anak-anak Infokom gak ada yang bisa ikut...apa mau dikata, dengan penuh rasa tidak tega kujalani keduanya. Tapi ikhlas koq.

Kutinggal proposalku, tugasku, tulisanku, editanku, dan janjiku dengan orang. Demi sebuah jalan-jalan di akhir pekan. Jadi sebenarnya saat Elly (Sekmen Pengmas) menanyakan apakah gak ganggu aktivitasku, ya sedikit berbohong ku jawab ”gak papa koq!” Duh...maaf ya mbak.

Delapan orang. Dua dari Brawijaya, lima dari Pengmas BEM ITS, dan aku. Berangkat dengan dua mobil, Panther ma Rush. Satu mobil isi empat orang plus tumpukan kardus-kardus bantuan. Mobil pertama (panther) berisi Pram ma Reike dari Pengmas dan dua perwakilan dari UB. Mobil satunya lagi ada Elly, Niken, ma Endi yang juga dari Pengmas plus aku yang nyetir. Wuakakakaaakk......akhirnya nyetir lagi. Sebenarnya tuh mobil punya Niken, karena jauh dimintalah aku yang bawa. Mungkin gitu kali yah.
Berangkat..........Laii

Tidak ada matahari Sabtu. Sepanjang jalan ada saja rintik hujan yang turun. Mau deras, gerimis, setetes, yang jelas pasti ada yang turun. Benar-benar hari yang indah. Coba saja setiap hari hujan...nyaman rasanya. Perjalanan pun menjadi menyenagkan. Asyik...acik..aciiik. Surabaya, (pinggiran) Gresik, Lamongan, dan Babat. Dampak luapan mulai terlihat. Sawah-sawah terendam, rumah di bantaran sungai mulai tampak tergenang, tanggul-tanggul bersusun-susun dan dari celahnya merembes air Bengawan Solo. Serem juga kalo tanggulnya jebol.....

Tepat saat Zuhur kami tiba di Bojonegoro. Sebelum masuk ke lokasi bencana kami putuskan Shalat dulu...trus makan dulu. Bagian ini yang paling ditunggu-tunggu. Makaaaaaaan. Cari warung dapetnya pecel ma Rawon. Agak beda sih...mungkin ini khas Bojonegoro. Tapi seharusnya aku melayangkan protes ke Pengmas. Pasalnya aku hanya dapat satu porsi, padahal aku ikut tidak hanya sebagai reporter, tapi merangkap sopir. Wah gak bener ini. Ini sama aja dua orang diberi makan satu piring. Pengen sih minta lagi.....tapi malu. Heheeeeee

Lanjut......jalan akses pertama sudah tergenang. Mencapai kepala orang dewasa katanya. Berputarlah kami lewat jalan lain. Alhamdulillah aman dan sampai tujuan.

Kali ini bukanlah perjalan yang biasa dilakukan sebelum-sebelumnya. Memang banyak hal-hal baru sekaligus enak dipandang mata yang biasa kudapati dalam setiap perjalanan. Namun kali ini ada kata baru yang terselip diantara semua keindahan itu. Bencana.

Ternak itu sudah berjajar di kiri kanan jalan. Beratap terpal seadanya mereka berlindung dari hujan gerimis yang belum juga berhenti. Luapan Bengawan membuat mereka harus turut mengungsi. Merekalah ekonomi para penduduk setelah ribuan hektar sawah terendam. Perjalanan terus berlanjut menuju posko bantuan di kantor kecamatan. Genangan banjir semakin terlihat dimana-mana. Sekolah dan beberapa rumah tak luput dari genangan. Perjalanan kali ini agak berbeda dengan sebelumnya. Meski masih bisa tersenyum atau bercanda tawa, ada rasa yang lain dalam hati ini.

Setelah urusan serah terima bantuan selesai. Kami berkesempatan melihat tanggul yang dibangun warga. Semakin miris saja melihat penduduk tetap bertahan dalam genangan. Mereka pun hanya menuggu makanan dari dapur umum. Kesehariannya pun tak lepas dari meninggikan tanggul dan terus meninggikan. Tak lain agar daerah sebelahnya tidak turut terendam. Mengorbankan yang satu untuk menyelamatkan yang lain. Ohh...so sweet. Hujan tetaplah hujan....banjir ya banjir.....senang tetap senang. Inilah Indonesia, diamana masyarakatnya tetap saja bisa tertawa dan sumringah.

Hari beranjak sore. Kami pun mesti pulang. Setelah foto-foto sejenak. Kami tinggalkan lokasi bencana dengan bantuan seadanya. Semoga mampu meringankan meski hanya sementara. Tak banyak pula yang dapat diceritakan karena kami hanya sekilas berada di lokasi bencana. Ingin rasanya berdiam lebih lama.......

Perjalan ini memang berbeda. Selain karena ke temapt yang berbeda dan dalam situasi yang berbeda, juga karena bersama orang-orang yang berbeda. Semuanya baru pertama kali kukenal. Hanya beberapa saja yang pernah selayang pandang. Namun sebuah perjalanan yang cukup untuk mengidentifikasikan seperti apa kami semua. Hanya dengan sebuah perjalanan kita dapat mengerti bagaimana teman seperjalan kita.
Seorang supervisor pernah berkata, kita bisa mengetahui pribadi seseorang dari tiga waktu. Saat bertransaksi, saat bermalam bersama, atau saat melakukan perjalanan bersama. Heheeee..ada benernya juga sih.

Sampai kampus sekitar pukul 20.30. Terlambat dari waktu yang diperkirakan karena harus berputar dulu di Babat. Ada tanggul jebol, jalan utama ditutup, lalulintas pun dialihkan. Tak apalah...toh dalam mobil ini.

Sampai kampus langsung menuju kantor dalam sambutan Mas Jo. Ada juga teman untuk menginap. Heheee.

”Gimana Mal, dikasih makan apa sama BEM?” tanya mas jo malam itu.
”Rawon mas, siang tadi.”
”Hiahahaaaa....jauh-jauh ke Bojonegoro dikasih rawon.”
”Ndak papa mas, yang penting bisa nyetir bawa mobil bagus.” jawabku
”Mal...mal...., hobi koq jadi sopir!”




NB: Butuh sopir! Jangan sungkan menghubungi saya. heheeeee

Minggu, 22 Februari 2009

Abis Olahraga Trus Periksa Tensi

Sabtu adalah hari olahraga. Olahraga kali ini adalah lari ringan, badminton, dan main bola. Campuran, campur aduk, dan tercampur-campur. Semuanya berlangsung di Kampus C Unair. Rencananya sih sekalian renang, tapi liat ikan mas yang gede-gede jadi keder juga. Heheeee....bilang aja gak bisa renang. Sekitar 10 orang alumni PPSDMS ngeluruk berolahraga bareng di Unair C.

Paling diminati tentu saja menyepak si bundar di rumput hijau. Yang tidak hobi silakan main badminton, yang fobia silakan lari-lari saja. Yang mau berenang bareng angsa juga boleh. Yang pengen cari kenalan juga tidak dilarang. Tapi sial bagi yang main bola.

Skor baru 3-3 saat itu. Lagi seru-serunya dan lagi panas-panasnya. Eh...datang pak satpam yang melarang main di rumput. Batal deh......gak masalah sih. Main gak main yang penting kumpul.

Sebelum balik dan setelah merencanakan agenda olahraga pekan depan, anak-anak mencoba sebuah fasilitas baru tiap akhir pekan di Unair C. Bukan fasilitas sebenarnya, hanya sukarelawan dari FK Unair yang memberikan pelayanan periksa tensi. Grastis......sebenarnya juga tidak. Sukarela.....sesukanya asal rela. Gak ngasih juga gak papa

Usut punya usut, ternyata mereka adalah dua mahasiswa semester 2 yang mencoba memanfaatkan keahliannya untuk menambah uang jajan. Satu cowok berwajah Tionghoa dan satu cewek yang keliatanya asli Indonesia. Memang sih hanya tensi darah, tapi setidaknya para olahragawan kampus C menjadi tau normal atau tidak tekanan darahnya. Kalau normal ya gak papa. Kalo tidak.....mereka berikan tips sederhana.

So....jika temen-temen berkesempatan berolahraga akhir pekan pagi hari di Unair C, jangan lewatkan kesempatan ini. Sukarela koq..........saya saja hanya membalas jasa dengan memposting berita ini. Heheeeeee

Next. Pasca olahraga kemana? Tak lain dan tak bukan serta tak salah lagi. Makannnnnnnnnnnn.

Warung yang beruntung kali ini adalah warung sate langganan saat dulu berada di asrama. Letaknya di Kaliwaron, yang belum pernah gak bakal tau tempatnya soalnya gak ada papan reklame sama sekali. Mau sate ayam ada, sate daging bisa, sate kelapa juga boleh. Campur pun sangat dianjurkan. Plus es teh atau teh hanget, seporsinya hanya Rp 5000.

Puas banget deh pagi itu. Belum lagi sedikit info dan ilmu yang selalu mengalir kalo dah ngumpul.

Menghadiri Pernikahan.........

Undangan ini dihadiri tepat di akhir pekan sebelum minggu pertama perkuliahan di ITS di mulai. Bagi para alumni angkatan 3 Surabaya, entah sudah berapa pernikahan yang dihadiri. Bagi mereka yang baru saja akan dan sedang akan mempersiapkan fase pasca kampusnya, mengahadiri undangan pernikahan senior-senior sebelumnya adalah suatu kehormatan dan keharusan alih-alih kewajiban memenuhi undangan.

Hari H adalah Ahad dan berlangsung di Lumajang. Tapi Jumat sore kami sudah berangkat dengan Innova sewaan. Alih-alih ke Lumajang, kami berbelok menuju Jember. Yupss.........jalan-jalan dulu. Memanfaatkan Innova 2.0 V untuk tidak hanya digunakan menghadiri walimahan. Dasar anak muda....

Delapan anak muda, satu Innova, satu tujuan (walimahan), sehari di Jember, sehari di Lumajang, dan inilah perjalanan mereka.....................yang banyak mereka habiskan di perjalanan.

Awalnya, formasi para alumni yang akan berangkat tidaklah pasti baik jumlah maupun siapa yang akan berangkat. Sampai akhirnya, takdir memilih mereka-mereka ini. (sekalian promosi.....gak popo rek yo?!?!)


Nuril Imansyah. Baru saja lulus dari Teknik Perkapalan ITS. Sedang menunggu wisuda Maret nanti. Ketua rombongan yang mengkordinir semua. Mulai dari masalah dana awal, nyewa mobil, ngatur jadwal....pokok-ke semuanya deh. Maklumlah, dia kan ketua alumni angkatan 3. Terimakasih sudah sepantasnya diberikan pada Nuril atas rencananya, rumahnya untuk menginap semalam di Jember, plus 3 kali makan gratis masakan asli orangtua. Kalo ke Jember.......rumah Nuril gak boleh ketinggalan dikunjungi.



Ardi Arifianto. Anak Mojokerto yang juga sedang menunggu wisuda dari Akuntansi Unair. Sopir pertama yang membawa Innova rute Surabaya-Jember. Andai saja mobil yang disewa tidak semaknyus Innova. Mungkin dia tidak akan ikut. Pasalnya, Ardi tidak berencana ikut. Saat test drive.....mmhhhhh koq enaknya. Ikutlah pemuda yang fobia bermain bola ini. Kalo lagi gak nyetir, orang yang satu ini paling ngakak di dalam mobil. Di satu sisi menghibur....di lain sisi mengganggu yang lagi tidur.



Emal Zain MTB. Sedang berjuang di Teknik Sipil ITS untuk menggapai wisuda ITS yang ke 100. Sopir kedua yang melayani rute selama jalan-jalan menyisir pantai Jember sampai Lumajang plus mengantarkan ke tempat tujuan utama (walimahan dan makan-makan). Baginya, Innova adalah mobil termewah yang pernah di bawa. Sekarang sedang mengimpikan mengendarai Toyota Yarist. Mmhhhhh ada yang mau meminjami.......kalo gak ada biar beli sendiri.



M Ibnu Ramdhani. Lulusan Manajemen Unair Oktober kemarin. Merupakan sopir ketiga yang membawa rombongan pulang ke Surabaya. Putra daerah Cilacap yang paling narsis diantara yang lainnya. Betapa tidak, setiap sesi jepret-menjepret tak ketinggalan minta di foto sendiri dengan gaya yang sok cool. Saat sedang tidak nyetir, sangat setia menjadi co-driver.



Fatihul Fauadi. Biasanya dipanggil Fatik. Sebelum berangkat Jumat Sore, paginya baru saja menempuh sidang TA di Informatika ITS. ”Akhirnya aku lulus juga katanya.” Bisa dipastikan, foto-foto wisuda di dinding rumahnya di Lumajang akan bertambah menjadi sembilan setelah kedua orang tuanya dan keenam saudaranya telah mendahuluinya. Belum lagi dua adiknya yang masih menempuh kuliah. Luar biasa. Fatik inilah yang menjadi pemandu selama perjalanan. Maklum......Lumajang dan Jember sudah menjadi daerah kekuasaannya. Terimakasih untuk rumahnya di malam kedua. Lumajang is OK.



Lutfan Sinatra. Putra Bangkalan yang baru saja pulang dari Ohio. Juga sedang menunggu wisuda Maret nanti sebagai sarjana Teknik Fisika ITS. Bisa dibilang kami akan aman-aman saja bersama mantan komandan Menwa ini. Melindungi dan mengayomi........kakak banget deh. Tapi sepertinya, orang ini yang paling gampang tidur. Ati-ati.....kalo terganggu, ngamuknya kumat.



Ronny Hariyanto. Anak Gresik yang kuliah di Akuntansi Unair angkatan 2005. Sedang berjuang untuk lulus secepatnya agar bisa membangun kampung halaman. Ketua asrama alumni Ruhul Jadid yang kabarnya sedang diburu oleh tetangga sebelah. Mmmhhhh......sepertinya penggemarnya bertambah banyak saja. Biasanya sih nih orang paling rame, tapi di mobil orangnya jadi pelit bersuara. Tapi sekali njeplak.....ampun deh.



The last, Dwi Lastomo. Anak yang paling banyak omong dari Fisika MIPA ITS 2005. gak cuman banyak omong....tapi juga paling sering komentar. Baru diem kalo dah tidur di mobil rasanya itulah masa paling tenang di dunia. Heheeeee. Karena hobinya yang satu itu, anak Solo ini didaulat menjadi humas rombongan sat memberikan sambutan dan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Akhirnya di-shoot kamera juga.


Biar rada singkat...begini-ni aktivitas kami selama perjalan (selebihnya pake foto aja ya).

  • Jumat sore sampe malam ada di perjalanan Surabaya-Jember. Sempet ngisi perut pake bakso di ruas jalan Lumajang-Jember.
  • Jumat malem ada di rumah Nuril di Jember. Nyampe langsung makan malem. Dipuas-puasin sebelum akhirnya tidur bareng dalam satu ruangan. Asyik juga.......
  • Sabtu pagi...makan lagi. Pecelnya enak banget bro..... . Sebelum berangkat menggeber lagi Innovanya tak lupa foto-foto dulu bareng keluarga. Makasih pak...bu.
  • Next, jalan-jalan deh ke Pantai Watuulo ama Papuma. Keren abis. Basah-basahan...foto-foto....makan-makan. Pengen lagi.
  • Setelah menghabiskan bekal dari ortunya Nuril, berangkat lagi ke Puger. Lihat pelabuhan nelayan ma pantai yang gak keurus.
  • Sore dah di rumah Fatik tepat di jantung kota Lumajang. Tidur bentar dan bangun langsung disambut jajanan khas Lumajang yang semua bahan bakunya dari pisang.
  • Malam.....ya jelas jalan lagi donk. Menggeber Innova keliling kota. Dan ditutup nonton World Movie di Metro TV. Shadowless Sword.......mbaknya cantik.
  • Pagi-pagi dah main bola di alun-alun Lumajang, dilanjutin makan di depan LP. Hunting lagi...........hunting lagi. Hunting apaan ????????? ada deh.
  • Sebelum ke acara inti...jalan-jalan dulu ke pos pemantauan Semeru.
  • Dan acara intinya hanya mendapat porsi yang sangat kecil. Menghadiri undangan pernikahan. Itupun masih kalah ma makan-makannya. Dasar.....hanya datang, salaman, makan, dan pulang.


Jadi sebenarnya ini acara menghadiri undangan atau jalan-jalan??

kelaparan semua......ngganjel pake bakso


ba'da Shubuh di Jember


bersama keluarga Nuril.......dan Innova


di pantai Watuulo


1...............


.........2........


...........3


sok cool.....


tedampar di Papuma


anak pantai......banget


belagak model


PPSDMS


karang Papuma (kurang roni...lagi ganti pampers)


pagi di alun-alun Lumajang


Aliran Semeru, sayang awan menutup kegagahannya


satu foto dari acara inti, bersama Indra Prasetya Lutfi dan istri


ucapan selamat dan mohon doa agar segera menyusul


Tambahan.....

"kami moderat, koq....."


Wallpaper Terakhir

Foto laptopku ternyata ada. Foto terakhir dan satu-satunya. Meski hanya tampak layarnya saja, setidaknya inilah walpaper terakhir.

Daerah-daerah yang akan dikunjungi saat keliling Indonesia nanti. Piihan itu pun belum menemukan jawabannya

Kamis, 19 Februari 2009

Notebook vs Backpacking

Saat sesuatu yang cukup berharga menghilang, maka perhitungan perencanaan selanjutnya menjadi kacau. Di sinilah prioritas butuh pengelolaan yang baik. Laptop hilang memang bikin sengsara. Bukan karena hilangnya, tapi ketidakpastian langkah yang harus diambil ke depannya dan ketidakjelasan nasib laptop itu sendiri.

Hidup ini memang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Sebelumnya, emal pernah harus memilih untuk menggunakan simpanan beasiswa dan tabungan untuk membeli kamera atau tetap ditabung untuk keliling Indonesia. Wuuiiiiikkkkk keliling Indonesia. Juli-Agustus InsyaAllah. Hihaaaahaaaa.........semangat

Konyol memang, untuk mendapatakn SLR memang belum cukup. Untuk keliling Indonesia mungkin cukup dengan melunta-lunta. Akhirnya dengan bersemedi 4 hari 4 malam plus Istikharah ber-rakaat-rakaat, ditambah wangsit Mbah Mojo di Trowulan sampai wejangan Kyai Arifin di Ampel…..diputuskanlah menyimpannya untuk keliling Indonesia. Sembari terus menabung biar gak ngelunta-nglunta banget lah.

Sampai suatu hari di mana bursa pemilihan itu mencuat kembali dengan hilangnya laptop. Keliling Indonesa atau beli laptop anyar. Beli laptop jelas gak cukup kalo gak yang bekas dengan merk kacangan. Plus pembatalan keliling Inonesia Agustus nanti. Berat................ di tengah pengerjaan proposal dan beberapa tugas, ditambah kerjaan online lainnya, laptop memang dibutuhkan. Masih setengah-setengah kalo harus minjam sana-sini atau mencuri satu singgasana di kantor.

Pilihan yang sulit.
Postingan pertama tanpa foto.........bahkan emal tidak punya foto laptopnya.
Apakah aku tidak mencintai laptopku? (baca juga)